Jumat, 02 September 2011

Destiny (Part 1)

Holaaaaa, selamat datang diFF saya lagi #plakkk..
Saya datang kesini membawa ff copasan (nah lo?)
Haha maksudnya ff ini saya ambil berdasarkan kisah cerita yang mungkin sebagian dari kalian mengetahuinya.
Tau ‘Summer In Seoul” kan? Nah saya mungkin ngambil sebagian besar jalan ceritanya itu, tapi ada beberapa yang saya rubah berdasarkan versi saya sendiri. Dan planningnya, saya mau publish ini buat ultah suami tercinta saya, tapi berhubung otak saya juga lagi mampet ide, So saya publish sekarang aja yak? heheheheheheh


*The End cuap-cuap*


*************************************

Cast : Im Soonhye, Lee Donghae.
Titled : One Hearts
Ost : ‘Y’ & Destiny – Super Junior
Genre : Romance (Halah)




Jika kau merasakan ada angin berhembus ditubuhmu saat itu, kau bisa membayangkan bagaimana hatiku sedang mengilir didepan wajahmu.
Saat kau melihat ada sinar cahaya menembus kedua bola matamu, kau bisa melihat bayanganku sedang masuk kedalam matamu.
Saat kau melihat kobaran api itu menggetarkan dirimu, kau bisa mengerti saat ini perasaanku sedang membara saat melihat wajahmu.
Kau bisa melihat isi hatiku? Melihatku menunggumu menghampiriku? Tersenyum padaku dan menciumku dengan segenap hasratmu? Kau bisa merasakan ketika air mata jatuh saat aku melihat kakimu bergerak meninggalkanku?

Aku harap begitu. Karna aku terlalu mencintai dirimu…


Author’s Pov

Donghae terdiam sambil mengetuk-ngetuk permukaan jamnya yang melingkar dipergelangan tangannya. Sesekali sebuah passport ditangannya dikibas-kibaskan didepan wajahnya.
Beberapa orang yang merupakan asistent pribadi dan staff Donghae sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sedang berbincang ria ditellfon, maupun mengobrol sendiri. Seperti tidak mempedulikan ada seseorang yang masih sendirian membutuhkan teman untuk diajak bicara menemaninya.
Ia menyandarkan punggungnya dan mendesah untuk ratusan kali. Waktu di Indonesia saat ini menunjukkan pukul 09.00 pagi. Setelah acara konser Tunggalnya yang diadakan di Indonesia. Dan sekarang ini, ia harus menelan kekecewaan karna saat ini dirinya benar-benar sendirian.
Para Fans yang sudah beberapa jam mengantri panjang hanya untuk bertemu sang idola seperti Donghae pun sudah mulai berpulangan sedikit demi sedikit.
Hanya beberapa orang yang tersisa, itupun hampir sudah tidak terlihat lagi.
Tapi disatu sisi dugaan Donghae salah akan para fans nya yang sudah mulai memulangkan dirinya.
Ia mendapati seorang gadis tampak barusaja menjepret dirinya dengan kamera DSLR ditangan gadis itu.
Karna melihat Donghae sedang menatapnya dari kejauhan, gadis itu menurunkan kameranya dan pandangannya merasa sangat gugup.
Lalu karna merasa tidak enak pada Donghae, gadis itu membungkukkan tubuhnya hampir membentuk 90derajat dan melambaikan tangannya kepada Donghae.
Donghae pun membalas lambaian tangan gadis itu. entah mengapa Donghae dibuat sedikit terperangah saat melihat gadis itu untuk pertama kalinya.
Karna merasa ingin meyakini hatinya, Donghae memutuskan untuk berjalan kearahnya.
Mata gadis itu sontak terkejut saat melihat Donghae benar-benar berjalan mendekatinya.
“Annyeong haseo, Oppa.” Gadis itu semakin terlihat gembira saat Donghae sudah didekatnya.
“kau bisa berbahasa Korea?” tanya Donghae pada gadis itu.
Gadis itu senyum simpul “hanya sedikit. Tapi kuharap kau bisa mengerti apa yang kukatakan.”
Donghae terkekeh “ah~ aku akan berusaha untuk mengertikannya. Ngomong-ngomong, sedang apa kau disini? apa kau termasuk—“
“Ne Oppa. Aku termasuk penganggumu yang sedang menunggu keberangkatanmu kembali ke Seoul. Ini hari terakhir aku melihatmu. Aku merupakan penggeram beratmu. Sudah beberapa tahun ini aku mengidolakanmu sebagai artis dan penyanyi favoritku. Aku sangat senang sekali kau bisa mengunjungi tempat kelahiranku ini. kamshamnidha..” gadis itu membungkuk lagi dengan gerakan super bersemangat.
Donghae lagi-lagi mengulas senyumnya yang tidak bisa ia tahan. Ada perasaan berbeda saat namja itu bertemu dengan salah satu fansnya.
“sudah kuduga. Pantas aja tadi kau memotretku.”
Mata gadis itu sontak berubah sedikit terkejut “ahh mianhe Oppa. Kupikir karna hari ini hari terakhirmu di Indonesia, aku ingin sekali mengambil fotomu dari jarak seperti tadi. Kupikir karna para Fans sudah tidak membahana lagi dan aku mempunyai kesempatan untuk memfotomu, jadi aku menggunakan kesempatan itu. tapi jika kau keberatan, aku bisa menghapusnya sekarang juga. Mianhe Oppa..”
Ketika gadis itu hampir menekan beberapa tombol dari kameranya, Donghae langsung mencegah gadis itu.
“anniya, tidak usah. Aku justru senang jika ada seseorang yang sudah memotretku secara diam diam. Apalagi orang itu adalah orang yang telah mencintaku.” Sanjung Donghae sesaat membuat tubuh gadis itu seperti akan melayang rasanya.
Senyumnya yang semakin melebar tidak bisa disembunyikan lagi. Donghae semakin senang saat ia harus berdiri didepan yeoja itu dengan senyumannya yang semakin membuatnya merasa tersipu.
“apa kau tidak mempunyai rencana untuk memotret kita berdua bersama?”
“De?” tanya gadis itu sedikit kaget.
“kau tidak mau berfoto bersamaku?”
Gadis itu seperti sedang mengalami penyetruman didalam tubuhnya. Donghae tahu gadis itu masih tidak percaya. Maka dari itu, Donghae menyambar tanpa permisi sebuah kamera dari tangan gadis itu dan menghidupkan kembali kamera.
Satu tangannya menarik lembut pinggang gadis itu, membawanya kedekat tubuh Donghae lalu menyuruh wajah gadis itu menghadap kekamera yang sudah diarahkan didepan wajah mereka.
“tersenyumlah, dengan begitu foto ini akan menjadi lebih menarik.”
Hitungan ketiga tempat saat gadis itu dan Donghae melemparkan simpul senyum mereka, lampu blitz menjepret kedua wajah orang itu.
Wajah sumringah gadis disamping Donghae semakin menjadi-jadi. Antara merasa beruntung dan setengah tidak percaya karna dirinya sudah berfoto bersama idolanya sendiri.
“gomawo Oppa. Aku sangat beruntung sekali bisa mendapatkan foto bersama dengan dirimu.”
belum Donghae menjawab pernyataan dari gadis itu, tiba-tiba peringatan keberangkatan pesawat penerbangan menuju Seoul sudah diumumkan.
“aissshhh, mengapa cepat sekali.”
“sudahlah Oppa. 5menit lagi kau harus berangkat. Terima kasih karna kau sudah mempersilahkanku berfoto bersamamu. Aku senang sekali kau menyambut fans sepertiku dengan baik. Terima kasih Oppa, terima kasih.” Ujar gadis itu semakin bersemangat dan membungkukkan tubuhnya berkali kali didepan Donghae.
Nama Donghae sudah diteriaki oleh para staff yang sudah mulai menunggunya.
Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dikatakan namja itu, namun berhubung para orang-orang staff Donghae sudah semakin mendesaknya dan gadis itu sudah semakin memundurkan langkahnya perlahan-lahan.
“baiklah, sampai bertemu dilain kesempatan.”
“annyeong Oppa.” Kata gadis itu dan memutar balik tubuhnya untuk segera pergi.
Donghae mengerutkan keningnya. Ada satu hal yang mulai membuatnya sendiri merasa kelupaan. Dan sampai akhirnya ia serta para staff sudah bergegas memasuki pesawat, ia baru ingat ia lupa menanyakan nama gadis itu..
“aissshhh, pabo! Siapa nama gadis cantik itu?”


*********************


2years later..


Soonhye’s Pov

“YAK! Soonhye~aahh. Cepat buka pintunya atau aku akan menyuruh para bodyguard ini untuk mendobrak pintu itu.”
BRAK BRAK BRAK!!!! Aisssshhh, dasar nenek tua itu. kenapa dia harus datang kesini lagi untuk menagih hutang yang belum kulunasi itu?
“Im Soonhye! Cepat buka pintunya.”
“Park Young Geum-ssi, aku berjanji akan melunasi semua hutang-hutangku. Saat ini aku benar-benar tidak mempunyai apapun untuk melunasi semua hutang-hutangku. Aku sungguh sungguh akan membayar hutangku itu dengan lunas. Jangan membuat diriku seperti seorang teroris yang harus kau bekuk selama hampir setiap harinya.” Teriakku menjawab dari dalam rumah sambil memeluk sebuah sapu sekedar untuk berjaga-jaga barangkali saja para bodyguard nenek sihir itu akan masuk mendobrak pintu rumahku dengan paksa.
“Cih~ semudah itu kau meminta waktu lagi dariku? Sudah ribuan kali bahkan ditambah dengan permintaanmu yang satu ini, aku sudah bisa memastikan kau tetap tidak akan membayar hutangmu, Soonhye.”
“sungguh kali ini pasti aku akan membayarnya. Aku akan membuktikan padamu, tapi jika kau tidak memberikanku waktu satu hari saja, kau harus merelakan hutangmu tak akan pernah kubayar.”
“MWO? Apa katamu? Aisshh, Baiklah baiklah. Akan kuberi waktu kau sampai besok. Jika kau masih mengingkari janjimu, jangan harap rumah ini masih berdiri kokoh ditempat ini. arraseo?”
BRAKKK. Itulah bonusan terakhir sebelum kaki kaki jahanam mereka bergusur pergi dari tempat tinggalku.
Aku memasukkan udara sebanyak mungkin. Sejak tadi yang bisa kulakukan hanya menahan nafas untuk mengumpulkan semua keberanianku menghadapi lalat lalat pengganggu lagi seperti mereka.
Aissshh, kenapa masalah Hyunwoo itu harus jatuh ketanganku? Kim Hyunwoo, orang yang sudah membuat hidupku kacau balau. Entah apa yang ada dipikirannya sampai-sampai masalah ini harus aku yang menanggungnya sendiri. Aku salah besar, kenapa juga aku memberikan namaku saat ia meminjam uang di bank? Dan yang lebih membuatku harus menggigit bibir, kenapa aku harus memberikan izin namja itu untuk mencantumkan alamat rumahku kalau pada akhirnya rumah ini hanya dijadikan sebagai jaminan? Jika saja bukan karna keterpaksaan dan ia sudah menjadi sahabat lamaku, seumur hidup aku tidak akan pernah memberikan alamat rumah ini padanya. Tapi rasa simpatikku akannya benar-benar musnah saat ia sukses membuat jantungku hampir berlari maraton setiap harinya ketika harus menghadapi tubuh-tubuh kekar seperti Bodyguard Park Young Geum.
Aku memeluk kedua kakiku, menjauhkan sapu yang sejak tadi kupeluk kesembarang tempat.
Walaupun aku teringat sudah seharian ini aku belum menghubungi Eomma di Jakarta, tapi masalahku kali ini membuat semua rencanaku menjadi rumit semuanya.
Kim Hyunwoo, orang itu sukses membuat hidupku menderita dan jungkir balik 180derajat.
Namaku Im Soonhye. Sudah beberapa tahun ini lebih tepatnya 6tahun aku menetap sendiri di Seoul. Ibuku merupakan warga asli Indonesia, sedangkan ayahku memang benar-benar keturunan warga asal Korea Selatan ini.
Alhasil, darah setengah campuran mengalir ditubuhku. Tapi beberapa tahun yang lalu sebelum aku memutuskan untuk tinggal dan bersekolah sendirian di Seoul, orangtuaku sudah lama berpisah. Ibu lebih memilih tinggal bersama suami barunya, sedangkan ayah? Sampai saat ini sama sekali tidak ada yang pernah tahu dimana dia sebenarnya. Terkecuali aku sendiri.
Pengusaha sukses yang hampir melupakan anaknya sendiri. Mungkin kata-kata itulah yang sangat cocok untuk disandang Appa kandungku.


*********************


Donghae’s Pov

Aku melajukan mobilku secepat mungkin meninggalkan para member begitu saja setelah acara di Inkogayo selesai.
Park Jung Min, manager pirbadiku itu tiba tiba saja menghibungiku. Dari nada bicaranya ia benar-benar sangat membutuhkanku. Seperti ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakannya.
Tak butuh waktu satu jam penuh saat melajukan mobil menuju kantornya.
Sesampainya disana aku langsung memasuki lobby utama dan bergerak cepat terbawa lift yang mengantarkanku keruangannya dilantai 8.
Mungkin terlihat seperti orang yang sangat tergesa-gesa, namun mengingat nada bicara Jung Min Hyung membuatku semakin mempercepat kedua kakiku untuk berjalan.
Aku membuka pintu ruangannya begitu saja tanpa harus mengetuknya terlebih dahulu. Kurasa ia juga bisa mengerti kondisiku sekarang ini.
“Hae. Kau datang.” Ujar Jung Min Hyung terlihat sedang menempelkan ponselnya kedekat telinganya.
Aku berjalan menghampirinya “ada apa Hyung? Ada masalah lagi dengan paparazzi itu?”
Jung Min Hyung tidak menjawab pertanyaanku. Alih-alih saat ia duduk disinggasananya, ia melemparkan sebuah majalah kepadaku. Matanya seperti menadakah pandangan kecewa.
Aku tahu, pasti ada masalah lagi yang tertulis dihalaman depan majalah itu.
“kuharap kau tidak terkejut membaca sampul itu.” gerutunya sambil membenahi letak kaca matanya.
Mataku bergerak dengan cepat membaca huruf bercetak besar yang memuat sampul itu. alis dan keningku berkerutan secara bersamaan. Belum lagi aku bisa merasakan kedua bola mataku shock setelah membaca berita itu.
“darimana mereka bisa memberikan majalah ini dengan judul yang sama sekali tidak masuk akal?”
‘DONGHAE MENIKMATI STATUS GUY NYA.” Kira-kira seperti itulah judul artikel dalam sampul majalah itu sendiri.
Aku menarik kursi didepan meja besar Jung Min Hyung. Meletakan majalah itu dengan kesal lalu mataku menuju hanya kepada Jung Min Hyung.
“aku benar-benar tidak sanggup lagi jika para orang-orang itu mendesakku dengan pernyataan mengerikan itu.”
“tenanglah Hae, pasti ada jalan keluarnya. Para wartawan itu hanya sedang berusaha mengungkit kembali kejadian 2tahun yang lalu. Kau harus tetap tenang menjalani pemberitaan ini. aku sangat meyakini semuanya akan beralih seperti biasa. Berusahalah untuk bersikap lebih professional.” Jung Min Hyung tampak berusaha menenangkanku.
Tapi percuma saja. hanya membaca judul dari majalah itu saja sudah membuat emosiku naik menjadi 99% bagaimana jika aku membaca isi dari pemberitaan itu? bisa-bisa saat ini juga aku akan membakar kantor editor pembuatan isi berita mengerikan itu.
“dan—“ Jung Min Hyung berhenti berbicara saat matanya sedang bergerak-gerak berpikir.

“dan apa, Hyung?”
”sepertinya kita harus melakukan sesuatu untuk membuang Image Guy mu itu.”
Aku menanjamkan indra penglihatanku mengarah pada Park Jung Min yang sedang menahan gelakannya.
“mianhe. Bagaimana? Apa kau setuju jika melakukan sesuatu agar pemberitaan itu tidak mengotori imagemu lagi?” nada Jung Min Hyung kali ini terdengar sangat serius.
Aku menopang kepalaku dikedua telapak tanganku.
“bagaimana caranya? Apa cara itu cukup masuk akal untuk kulakuan?”
“aissshh, intinya apa kau menyetujui usulanku atau tidak? Masalah bagaimana kita melakukannya itu bisa kita pikirkan belakangan saja. yang terpenting kau menyentujui hal ini agar nama baikmu kembali lagi.”
Jung Min Hyung meninggikan nada bicaranya satu tingkat. Ada rasa yakin didalam kata-katanya. Seolah ingin membuktikan, bahwa manager yang sudah mengasuh dan mengurusi segala kegiatan dan tetek bengekku ini melebihi dari kekerabatan seorang manager pada artisnya.
Kuputar kedua bola mataku seiring dengan jok kursi yang sedang berputar-putar juga mengikuti gerak tubuhku.
Mataku kembali menatap Jung Min Hyung, ternyata ia masih menunggu reaksiku saat ini.

***************

Author’s Pov

Jari-jari tangan Soonhye bergerak cepat menekan beberapa angka didalam ponselnya. matanya bergerak kesana kemari memfokuskan apa yang sedang ia ketik diponselnya sendiri.
Tak lama ia menempelkan ponsel ketelinganya. Menunggu nada sambung terangkat saat ada seseorang yang akan menjawabnya.
“aissshh, kenapa Mamah tidak mengangkatnya?” gerutu Soonhye menatap layar ponselnya lagi sambil kembali menggerakan mesin jari ke berbagai tombol diponselnya.
Tapi barusaja akan mengirimkan sebuah pesan ke ponsel milik ibunya, tiba-tiba ia dikejutkan satu panggilan masuk yang secara refleks Soonhye mengangkat panggilan masuk itu.
“Yoboseo?”
“Soonhyeeeeeeee, apa kabarmu, Chagiya?” teriak seseorang diseberang sana membuat telinga Soonhye saat itu terasa bising luar biasa.
Ia mendekatkan ponselnya kembali setelah sempat dijauhkan untuk menghindari radiasi teriakan diseberang sana yang nyaris membuat telinganya bermasalah.
“Neo Nuguya?” tanya Soonhye.
“aissshh, kau bahkan lupa pada teman lama yang sudah menganggapmu sendiri sebagai saudariku.” Yeoja itu mendesah sambil berdecak kesal.
“jeongmallyo. Aku benar-benar tidak tahu siapa kau.”
“kau lupa dengan nama Choi Hyunhee mu ini?”
Soonhye terdiam sejenak mencerna sebutan nama itu. lalu perlahan matanya mendelik terkaget “MWO? HYUNHEE-aaaa. Ini benar-benar kau? Huwaaaa. Kau masih ingat denganku?”
“Ne. tapi kenyataannya berbalik. Justru kau yang melupakan kehadiranku.”
“mianhe. Akhir-akhir ini aku benar-benar sedang ada pikiran. Kacau balau rasanya sampai sampai aku nyaris lupa dengan sahabat lamaku ini.”
Hyunhee, teman Soonhye dulu saat sebelum dia pindah ke Indonesia terpekik pelan.
“Ne, Gwenchana. Yak~ aku menghubungimu karna ada sesuatu penting yang harus kusampaikan. Dalam waktu dekat ini, ah~ tepatnya besok aku akan kembali bersekolah di Korea sana. Kita akan bersama lagi..”
Mata Soonhye berbinar senang mendengarnya “Jeongmallyo? Kau akan kembali lagi disini? huwaaaa, Chukkae. Jadi besok kau akan datang kesini? Jam berapa kira-kira kau sampai dibandara? apa kau akan tinggal bersamaku?”
Hyunhee kembali berdecak “yak Soonhye-aa, mustahil untukku bisa diperbolehkan tinggal bersamamu. Aku akan tinggal bersama ahjummaku disana. Orang tuaku menitipkanku disana. jadi sebagai gantinya, ahjummaku yang akan beralih tangan mengurusiku selama disana.”
Soonhye sedikit kecewa mendengarnya, tapi hal itu langsung ditampik dari pikirannya cepat cepat beralih kembali ceria.
“baiklah itu tidak masalah. Yang terpenting kita masih bisa bersama. Lalu apa kau mau besok kujemput dibandara? aissshh aku sudah sangat merindukanmu, Hyunhee~aa. jam berapa kau akan sampai disini?”

*************

Soonhye merogoh saku mantel tebal warna biru tuanya, mencari ponsel untuk menghubungi ibunya di Jakarta.
Sejak kemarin, ia terus menerus menunda untuk menghubungi ibunya. Setiap kali ibunya menghubungi dirinya sendiri, ia akan segera mematikan ponselnya. alasan ‘banyak masalah’ menjadi factor utama kenapa ia harus menjauh dari Ibunya disana. karna ia tahu, Ibunya sangat mempunyai pemikiran dan bayangan yang tajam. Jadi begitu mendengar suara Soonhye saat ini, pasti ibunya langsung tahu putrinya sedang punya masalah. Dan tak lama wanita yang sudah melahirkan Soonhye akan berkhotbah selama kurang lebih 2jam didalam telfon.

Gadis itu menekan beberapa sederet tombol yang langsung menghubungkan sambungan telefonnya kepada ponsel Ibunya.
“Halo?”
“Mah, maaf kemarin aku tidak mengangkat panggilan dari Mamah karna tugasku sedang menumpuk. Belum lagi, itu semua harus kuserahkan dihari yang sama. Maaf mah~”
“huffff, Mamah pikir ada sesuatu yang terjadi padamu. Tapi kau benar-benar sedang tidak apa-apa kan, Andrea?”
Soonhye menggigit bibir bawahnya “iya Mah. Aku baik-baik saja disini. bagaimana keadaan Mamah sendiri?” tanya Soonhye mengalihkan perhatian Ibunya agar wanita yang sedang berbicara dengan Soonhye tidak menanyakan hal itu lagi lebih dalam.
“Mamah baik-baik saja. kau sudah makan?”
“sudah Mah. Ehmm, yasudah kututup dulu saja ya. Aku sedang menunggu teman di Bandara. Mungkin aku akan menghubungi Mamah lagi nanti. Bye Mah~” Soonhye menutup perbincangan mereka dan menjalankan kakinya lagi ketempat kedatangan dari Luar Negeri.
Beberapa deretan manusia yang juga sedang menunggu seperti halnya dengan Soonhye tidak terlalu ramai diruang lingkup sekitarnya sendiri.
Soonhye melemparkan pandangannya keberbagai arah, mencari kerumunan orang yang akan keluar dari tempat kedatangan dari luar negeri.
Tapi disisi ekor matanya, ia melihat beberapa namja bertubuh besar mengenakan jas hitam sedang berjalan sambil mengedarkan pandangan mereka kesekelilingnya.

Soonhye merasa dirinya pernah bertemu dengan para namja bertubuh kekar itu. pernah bahkan sangat mengenalinya. Mereka seperti seorang bodyguard yang— aigoo?
Soonhye menepuk pelipisnya begitu ia ingat, para namja itu merupakan orang yang kemarin datang kerumahnya dengan sangar bersama pihak Bank bernama Park Young Geum.
Kaki Soonhye terasa tidak menapak lagi dibumi, mengingat wajah sangar ketiga namja itu masih sangat diingatnya. Belum lagi saat mereka, para bodyguard itu dengan kurang ajarnya mendobrak dan memaki-maki Soonhye didalam rumahnya.
“kyaaaa~ apa yang harus kulakukan?” Soonhye nyaris kehabisan akal dan gusar.
Seperti yang ditakutkan Soonhye, tidak lama 3namja itu mendapati Soonhye saat itu juga. Soonhye semakin tidak bisa merasakan ada tanda-tanda kehidupan lagi yang bekerja didalam tubuhnya.
Matanya mulai semakin mendelik dan jantungnya tidak bisa berpacu lebih cepat lagi. serta pikirannya mulai bekerja semakin melemah.

Soonhye’s Pov

Tubuhku terasa bergetar hebat saat itu. saat mataku tidak sengaja menemukan 3pasang tubuh dengan ukuran super nyaris tidak berbentuk manusiawi itu mengarah padaku.
Mata mereka terbelalak hebat, satu diantaranya menuding kearahku. Menyuruh 2 orang diantaranya melihat kearahku secara bersamaan.
Sedangkan aku, aku hanya bisa melototi diriku yang serba salah sekarang.
“Eottokeoh? Mereka melihatku.” Aku berusaha mengendalikan tubuhku sendiri agar tidak roboh.
Langkah mereka dipercepat lebih dari yang kubayngkan. Berlari dan tentu saja itu kearahku.
“aissshh.” Aku langsung melarikan diriku begitu mereka sudah semakin mendekat.
“NONA IM.. JANGAN LARI KAU.” Samar-samar dari kejauhan aku bisa mendengar teriakan itu sangat mengarah pada seorang yeoja yang sedang berlari ketakutan menghadapi 3 beruang raksasa seperti mereka.
Aku menjalankan lebih cepat kedua kakiku berlari, berusaha melebihi kecepatan seekoar kuda berlari walaupun rasanya itu tidak mungkin. Energiku terbatas tapi mereka akan semakin dengan mudah menangkapku jika saja keterbatasanku ini mencapai titik sekarat.
Hampir secepat ini sampai aku harus menabrak beberapa orang yang juga sedang melaju keberbagai arah didalam bandara Incheon. Menghiraukan tatapan sinis mereka dan berusaha menghalau apapun yang menjadi rintanganku saat ini.
BRUUUKKK.. aku menubruk salah seorang yang membuat tubuh kami sama sama tersentak jatuh kelantai.
Beberapa barang jatuh berserakan secara bersamaan. Aku bahkan bisa melihat orang itu merunduk kesakitan.
“Mianhe.” Tanpa mempedulikan tatapan orang dihadapanku, aku langsung mengambil barang-barangnya yang tercecer begitu saja. tidak benar-benar mengambilnya karna saat mataku mendapati tubuh ketiga bocah sialan itu sudah semakin mendekat.
Aku meraih ponsel milikku yang sempat terjatuh juga. Kembali berlari seperti hal nya kuda yang sedang diincar para pemburu.


Author’s Pov

Soonhye memeluk kedua kakinya. Ia berhasil lolos dari kejaran ketiga debcolektor yang sudah memburunya sejak tadi.
Ia bisa merasakan tubuhnya setengah tidak bisa dikendalikan karna efek lari-larian tadi.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengurung dirinya didalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 8malam. Ia terlalu takut untuk keluar dalam keadaan seperti ini. mengunjungi temannya yang barusaja datang ke Seoul.
Chakkaman, teman yang baru datang?
“Aigoo!!!” Soonhye memukul keningnya sendiri. Ia teringat akan janjinya untuk menjemput temannya yang barusaja datang dari Indonesia.
Soonhye berdiri dengan pandangannya yang sudah kembali terkejut.
“aiisssshh, kenapa aku bisa sebodoh ini? bagaimana dengan Hyunhee sekarang?” ia menyambar ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja.
Menekan speed dial angka 3 untuk menghubung kearah ponsel temannya itu.
Soonhye menggigit jarinya menunggu seseorang diseberang mengangkat.
“yoboseo?”
“yak Hyun—“ Soonhye berhenti saat sipembicara didalam ponselnya justru bersuarakan seorang laki-laki.
“yoboseo? Halo, ini siapa?”
Soonhye semakin mengerutkan keningnya. Kenapa suara Hyunhee berubah mendadak seperti laki-laki?
Soonhye kembali mendekatkan ponsel ketelinganya.
“maaf, bisa aku berbicara dengan Choi Hyunhee?”
“Choi Hyunhee? Siapa dia? Kau, kenapa ponsel Donghae bisa ada ditanganmu?” tanya sipenelfon diseberang sana dengan suara sedikit meninggi.
“Donghae? Siapa dia? Kau salah sambung tuan.” Sela Soonhye.
“salah? Tapi diponselku nama Donghae tertulis disini.” suara namja itu seperti tidak mau kalah dalam perdebatan mereka.
Soonhye menatap layar ponsel ditangannya kembali. Benar saja, bukan nama ‘Hyunhee’ lah yang seharusnya ia baca, melainkan nama ‘Jung Min Hyung’ yang tertera didalam layar ponselnya.
Karna kebingungan, Soonhye memutuskan sambungan pembicaraan mereka. Ia duduk sebentar sambil berpikir keras. Kenapa ponselnya bisa mempunyai kontak nama yang berbeda? Gadis itu membuka tempat kontak nomor orang-orang yang sudah ia simpan. Untuk kedua kalinya ia dikejutkan dengan nomor-nomor dan nama-nama asing yang sama sekali tak dikenalinya.
“Eottokeoh? Kenapa bisa begini?” gumam Soonhye mulai panik.
Soonhye menekan beberapa nomor yang ia ingat secara baik. Menghubungkan nomor diponselnya kenomor yang ia tuju. Berharap suatu kesalahan tidak terjadi padanya lagi.

*************

Donghae’s Pov

“Ne Hyung. Aku juga sempat bingung kenapa ponselku bisa tertukar seperti ini. dia seorang gadis? Lalu bagaimana dengan nasib ponselku?”
Aku menggerutu didalam telfon selama beberapa menit setelah kepanikanku mendatangiku saat ponsel dengan kontak nama yang berbeda dan tidak ada satupun yang kukenal bisa masuk kedalam ponsel ini.
“sudahlah, aku yakin sebentar lagi dia pasti akan menghubungi ponselnya sendiri. Yang menjadi pertanyaanku, kenapa ponsel kalian bisa saling tertukar? Apa kau mengenal gadis itu?”
“tidak sama sekali Hyung. Tadi ia sempat menabrakku dibandara setelah kepulanganku dari acara konser di Beijing. Ia terlihat buru-buru sepertinya dan menabrakku. Barang-barangku sempat berceceran dan aku tidak melihat saat ia kembali berlari dan ponselku yang justru dibawanya.” Lanjutku lagi duduk diatas sofaku.
“jadi begitu. Ah~ sebentar lagi aku akan kesana. Memastikan keberadaan ponselmu. Jika dalam beberapa jam lagi tidak ada kabar mengenai ponselmu, kita akan mencarinya sama-sama.”
Aku berdeham menyetujuinya, lalu menutup sambungan kami. Tapi belum ada semenit, ponsel ditanganku berdering kencang.
Kutatap layarnya lekat-lekat dan benar saja, nomorku lah yang tercantum dilayar ponsel ini.
Aku segera menekan tombol hijau dan menempelkannya ditelingaku kembali.
“Yoboseo?” aku berusaha setenang mungkin agar kendaliku tidak terlalu terdengar seperti orang kepanikan.
“ehem..” yeoja itu berdeham kikuk kedengarannya. Tapi entah mengapa saat suara diseberang sana terdengar, aku kembali teringat akan kejadian ‘de ja vu’ yang pernah kualami.
Entah apa itu, tapi aku sempat ingat ketika yeoja yang tadi siang menabrakku. Jujur saja aku sempat melihat wajahnya, saat itu aku mendapati mataku bertemu dengan wajahnya yang tampak tengah terburu-buru. Seperti ada sesuatu yang mengintainya, tapi bukan itu yang menjadi penyebab mengapa hatiku seperti bergejolak keluar melihatnya.
Seperti ada sesuatu didalam wajah yeoja itu begitu ia mendongakan wajahnya melihatku sekilas.
Lalu seperti terbawa arus ombak yang menggiringku entah kemana, aku bukannya justru merasa kesal saat ia berhasil membuat notebookku sempat bermasalah karna terbanting.
Bodohnya, saat ia kembali berlari aku malah mendapati diriku terpaku oleh wajahnya. Wajah yang sangat familiar.
“Yo..Yoboseo?”
Suara yeoja itu membuyarkan pikiranku.
“Ah~ Ne. apakah kau pemegang ponselku yang tertukar padamu?” tanyaku perlahan.
“Benar. Ponsel kita tertukar. Jeongmall mianhe aku tidak bermaksud menabrakmu seperti tadi—“
“gwenchana. aku tidak mempermasalahkannya. Hmm, apakah ponselku baik-baik saja?”
Yeoja itu sempat terdiam dan tak lama menjawabku lagi.
“ponselmu baik-baik saja tuan. Lalu bagaimana dengan ponselku?”


Author’s Pov

Soonhye berdiri diambang pintu berwarna putih elegan. Satu tangannya menekan tombol bel agar sipemilik rumah yang sebelumnya pernah ia temui tanpa sengaja disaat gentingnya keluar dan segera menemuinya cepat-cepat.
Saat ini, tubuh dan pikirannya tidak bisa berkontraksi dengan baik. Seluruh tulang ditubuhnya bahkan tidak bisa dirasakannya lagi.
Tidak ada kinerja kehidupan didalam tubuhnya. Alhasil, sekarang ia nyaris merasa bahwa dirinya hampir lumpuh dan akan renggang sebentar lagi.
Soonhye melemparkan pandangannya kesekililing halaman rumah sipenelpon yang pernah menghubunginya.
Harus diakuinya, namja itu mungkin seorang kolongmerat kelas atas. Memiliki rumah semewah dan seelegan ini membuat mata Soonhye sedikit mendapatkan pencerahan.
Soonhye hampir menekan tombol bel pintu kembali, tapi sesosok namja berpakaian kaos lengan panjang berwarna putih dan celana panjang yang menutupi tubuhnya sepasang dengan atasan kaos yang dikenakan pria itu sudah keluar.
Donghae, mendapati yeoja didepannya langsung membungkukkan tubuhnya seperempat lingkaran.
Matanya kembali sedikit tertegun entah mengapa. Walaupun masih tidak mengenalinya dan sempat merasa penasaran dengan yeoja itu.
“Annyeong Haseo. Aku pemilik ponsel yang beberapa menit yang lalu kau hubungi.”
Donghae segera mengalihkan pikirannya yang tidak-tidak lagi. ia tersenyum pada Soonhye didepannya.
“Oh Ne, ponselmu ada didalam rumahku. Silahkan masuk dulu.” Donghae membuka pintunya lebih lebar dan mempersilahkan yeoja itu masuk kedalam rumahnya.
Soonhye memasuki dirinya setengah terpaksa. Jika bukan karna ponselnya yang tertukar, dia bersumpah dia tidak akan mau memasuki rumah orang yang tidak dikenalinya dalam keadaan hampir sudah malam seperti ini.
“hmm, sebentar aku akan mengambilkan ponselmu dulu, apa kau mau kuambilkan minum?”
“ah tidak usah. Kebetulan karna sudah malam aku harus buru-buru pergi juga. Ini tuan ponselmu.” Soonhye menyodorkan ponsel milik namja didepannya yang bentuknya benar-benar sama persis seperti ponsel milik Soonhye.
Donghae menerimanya “Kamshamnidha. Kupikir tadi ponselku benar-benar hilang, yasudah, tunggu disini sebentar.” Kata Donghae dan meninggalkan Soonhye sejenak masuk kedalam ruangannya yang lebih menjorok kedalam.
Soonhye memilih tetap berdiri dibandingkan duduk dikursi mewah milik namja asing yang belum dikenalnya sama sekali.
Ia mendengar tiba-tiba pintu rumah namja itu terbuka, ia membalikkan tubuhnya dan seorang namja berperawakan sopan dan rapi, serta kaca mata yang ia kenakan membuatnya semakin terlihat sebagai namja dewasa.
Namja berkacamata itu melihat Soonhye, otomatis saat itu juga Soonhye membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada namja asing kedua itu.
“Annyeong haseo.” Ujar Soonhye memaksakan bibirnya tersenyum walaupun rasanya sangat berat.
Namja itu mendekati Soonhye sambil setengah tersenyum dan setengah menelidik Soonhye “kau yeoja yang tadi sempat menghubungiku lewat nomor Donghae?”

Soonhye mengangguk “ne. itu aku. Maaf membuatmu salah sangka.”
Park Jung Min, namja yang sudah dayang kerumah Donghae tanpa diketahui oleh pemiliknya sendiri menggeleng menolak pernyataan Soonhye.
“oh tidak apa-apa. aku bisa mengerti hal itu. hmm, apa kau sudah bertemu Donghae?”
“sudah, dia sedang masuk kedalam untuk mengambil ponselku.”
Tepat saat mereka membicarakan Donghae, namja itu muncul dari arah ruang tengah rumahnya yang luas.
Sambil membawa ponsel yang langsung diberikan kepada Soonhye dengan sopan.
“Hyung, kau sudah datang?” sapa Donghae tapi matanya justru hanya mengarah pada gadis didepannya yang sedang memasukkan ponsel miliknya kedalam tas yang ia jinjing.
“barusaja sampai. Bagaimana, sudah ditemukan, kan? Sudah kukatakan kau tidak perlu sepanik tadi. Pasti ponselmu baik-baik saja.” gerutu Jung Min sedikit kesal dan hanya dibalas oleh kekehan Donghae sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
“tadi itu aku hanya sedikit kalang kabut. Terlalu letih jadi hal seringan itu harus kubesar-besarkan.”
“Maaf aku harus permisi dulu.” Soonhye memotong pembicaraan mereka agar mereka sadar masih ada orang asing berdiri ditengah tengah mereka.
“oh baiklah. Aku sangat berterima kasih padamu, nona karna sudah mengantarkan ponsel si namja pabo ini dengan selamat.” Mata Jung Min meledek kearah Donghae. Donghae membalasnya dengan menyikut Jung Min menggunakan sikut lengannya.
“sama-sama.” Kata Soonhye singkat karna yeoja itu tidak mau berlama lama menghabiskan waktunya didalam rumah orang asing yang belum dikenalnya.
“apa kau mau kami antar?” Donghae buru-buru menambahkan sebelum kaki Soonhye menapak keluar rumahnya.
Soonhye langsung menggeleng dan tersenyum setengah lelah.
“tidak usah, aku bisa pulang sendiri naik kendaraan umum.”
“tapi hari sudah malam, apakah kau tidak takut akan terjadi apa-apa dimalam hari seperti ini. lagipula, kau akan aman jika kami yang mengantarkan kau pulang.” Jung Min mengiyakan usulan Donghae.
“tidak, terima kasih tuan. aku bisa menjaga diriku sendiri. Selamat malam, maaf menggangu waktu anda.” Soonhye langsung membungkukkan tubuhnya dan bergerak cepat menghambur keluar rumah Donghae.
Mereka berdua hanya bisa terdiam dan memandang satu sama lain. Sama sama memandang tubuh Soonhye yang perlahan mulai menjah dari jarak pandang mereka.
Tapi saat tubuh Soonhye terlihat berhenti dan bergerak limbung hingga yeoja itu nyaris ambruk, kedua namja itu langsung berlari dan menopang tubuh yeoja itu dikedua tangan mereka.
“nona, nona kau tidak apa-apa?” tanya Jung Min panik.
Soonhye menyentuh pelipisnya menahan rasa pusing yang tiba-tiba menyerangnya. Sambil berusaha membuka matanya lebih lebar, ia menggeleng “tidak apa-apa. sepertinya aku hanya kecapean.”
“sudah kukatakan, lebih baik kau kami antar pulang. Kau tahu tidak baik untuk seorang wanita berjalan di jam yang hampir menunjukkan waktu tengah malam.”
Soonhye masih terdiam menikmati rasa pening dikepalanya. Ia hanya bisa pasrah saat kedua namja itu melingkarkan tangan Soonhye dileher mereka.
“sudahlah nona, kami benar-benar ingin membantumu, tidak akan terjadi apa-apa selama kami mengantarkanmu pulang. Kami tidak akan macam-macam”
Akhirnya Soonhye merasa dirinya mendapat sedikit energi untuk menopang tubuhnya sedikit walaupun masih sangat lemas.
“baiklah.” Jawab singkat Soonhye dan kedua namja itu masuk kedalam mobil Donghae.

*******************

KRIIINNNGGGGGGGG..
Jam beker Soonhye berdering nyaring, membuat suasana paginya yang sunyi senyap dan damai berubah seketika menjadi kacau balau.
Ia meraba meja disamping kasurnya dan mematikan deringan itu yang seakan sedang berteriak menerkam indra pendengar Soonhye.
Soonhye melirik jam beker ditangannya dengan mata setengah terbuka.
Jam 06.30, masih sangat pagi untuknya beraktifitas seperti biasa.
Saat ini, ia sedang bekerja disalah satu butik ternama milik desainer yang namanya sudah dikenal baik didalam Korea maupun diluar Korea sendiri.
Tapi pekerjaannya sebagai pengantar baju pesanan tidak cukup membuatnya merasa mendapatkan tekanan batin.
Sudah hampir 2 minggu ini, ia sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memilih untuk mencari pekerjaan lain.
Biaya kiriman dari orang tuanya sebenarnya sudah melebihi dari cukup, ia hanya sekedar mengisi waktunya yang senggang selain beraktifitas sebagai seorang mahasiswa di Universitas Kyunghee.
Tapi, kenyataan yang dia dapat selama bekerja dan mengabdi pada boss nya yang super menyebalkan bernama Mister Kim, si namja setengah wanita yang memililku ahli berbicara panjang lebar alias cerewet setengah mati.
Hal itulah yang menjadi penyebab utama mengapa gadis itu sangat ingin sekali mengundurkan diri, tapi sampai sekarang keinginannya itu belum dilaksanakannya.

Soonhye berusaha memejamkan kedua matanya lagi, tapi hitungan ke5 ponselnya berdering lebih nyaring dari suara jam beker yang sempat membangunkan paginya.
Ia berdecak kesal dan menyambar ponselnya begitu saja.
“yoboseo?” jawab Soonhye dengan suara serak dan mata masih tertutup rapat.
“SOONHYEEE-AAAHHHHH!!!!!!!!!!! KENAPA KEMARIN KAU TIDAK DATANG MENJEMPUTKU?????”
Teriakan itu sukses membuat mata Soonhye terbuka dengan sendirinya. Dari suaranya ia sudah menduga siapa factor ketiga penyebab dirinya terbangun dipagi miliknya hari ini.
“yak~ bisa tidak kau pelankan volume lengkinganmu itu?”
“baiklah baiklah, itu sangat tidak penting. Yang terpenting sekarang kau jawab pertanyaanku. Kenapa kemarin kau tidak datang menjemputku?”
Cerocos Hyunhee yeoja yang sedang menghubungi Soonhye.
Soonhye menutup mulutnya saat dirinya menguap habis-habisan.
“aku lupa.” Hanya alasan itu yang ada diotaknya yang masih belum sadar benar.
“mwo? Aissshh, entah mengapa otakmu itu benar-benar sangat susah sekali untuk diajak mengingat kejadian lampau. Yasudah, kali ini kumaafkan. Jika lain kali kau melakukannya lagi, jangan harap nyawamu masih melekat ditubuhmu.”
“apa ini pernyataan secara pribadi atau ancaman?”
“terror!!” potong Hyunhee memojokinya.
“yak Soonhye~aah. Sebentar lagi aku akan datang kerumahmu. Kau masih tinggal ditempatmu yang lama kan? Aku punya sesuatu untukmu. Bagaimana?” seru Hyunhee kembali bersemangat.
Soonhye menggaruk-garuk kepalanya “baiklah, aku tunggu.”

****************

Hyunhee dan Soonhye meneguk soju yang barusaja dibeli Hyunhee sebelum gadis itu mengunjungi rumah Soonhye.
“rumahmu tampak tidak ada perubahan yang banyak.” Ujar Hyunhee mengedarkan pandangannya keruangan rumah Soonhye yang berukuran sedang.
“aku memang malas mendekorasinya lagi. masih banyak hal yang lebih penting selain menata rumah.”
Hyunhee hanya menangguk dan meneguk soju ditangannya lagi. ia tersentak sedikit.
“Ah~ Soonhye-aah, apa kau tahu penyanyi asal negara ini bernama Lee Donghae?”
Soonhye melipat dahinya “Donghae? Aku tidak kenal. Kau mengenalnya?”
“bukan mengenal lagi. aku bahkan sangat jatuh cinta padanya. Kau tahu, ternyata kepopulerannya tidak hanya merambah disini saja, kudengar popularitas namja tampan itu sudah meluas diberbagai negara. Suara itu sangaaaaat merdu sekali. Dan bodohnya, kau yang sudah tinggal disini bertahun-tahun tidak mengenalnya sama sekali.” Hyunhee menggerutu disertai dengan bibirnya yang mendadak maju kedepan.
Soonhye menaruh botol sojunya “haruskah aku mengenal siapa dia? Kau tahu sendiri aku tidak terlalu maniak dengan hal hal berbau entertainment seperti itu.”
“iya juga sih. Ah~ aku baru ingat tujuanku datang kesini.” Hyunhee segera menggerakan tangannya cepat memasukannya kedalam tas jinjing berukuran sedang berwarna coklat mudanya, lalu Hyunhee menemukan sebuah majalah.
Ia memandang covernya sejenak, matanya tiba-tiba merasa sedikit kecewa lalu bibirnya semakin dimajukan saja. tidak lama gadis yang sedang duduk berhadapan dengan Soonhye menyodorkan majalah itu pada Soonhye.
“Ige mwoya?”
“sebenarnya aku sudah lama sekali tergila gila dengan namja bernama Donghae itu, tapi mendengar berita ini aku jadi semakin dibuat naik darah. Bagaimana pendapatmu?” tanya Hyunhee masih memegang majalah didepan wajah Soonhye.
Soonhye menyambarnya dan membaca judul sampul majalah itu. didepan artikel itu sendiri, gambar yang memuat 2 orang namja seperti sedang membantu seorang gadis itu berdiri. Suasananya gelap dan alhasil gamba itu tidak terlalu terlihat jelas.
Tapi ia sempat mendapati satu wajah diataranya pernah ia kenali. Wajah itu sangat familiar bahkan sepertinya ia barusaja menemui namja didalam artikel itu.
Dan pakaian wanita itu, pakaiannya persis seperti yang dikenakannya semalam saat dirinya menemui seorang namja saat insiden pertukaran ponselnya terjadi.
Chakkaman… semalam?
Aigoo, mata Soonhye semakin mendekat kearah sampul majalah itu sendiri. Ia mulai sadar, gambar seorang gadis bersama dengan 2 pria asing itu adalah kejadian yang dialaminya semalam.
Jadi, rumah yang ia datangi semalam itu adalah rumah seorang artis?? Lalu yang dimaksud Donghae si idola yang digilai Hyunhee itu adalah.. orang ini.
“jadi..” Soonhye masih tidak percaya.
“yak Soonhye-aa. kau mengetahui kejadian itu?” tanya Hyunhee semakin membuat kondisi Soonhye sangat kikuk dan gagap.
“de? Ah tidak, aku.. aku hanya sempat mendengar berita ini tadi sebelum kau datang kerumahku. Jadi, ini namja yang kau maksud?” Soonhye berusaha mengalihkan pembicaraan agar Hyunhee tidak menyadari sebenarnya gadis yang berada didalam majalah itu adalah dirinya.
Hyunhee mengangguk dan tersenyum bersemangat
“Ne. bagaimana dia? Tampan kan? Bukan hanya itu, dia juga memiliki postur tubuh yang sangat menarik, suara yang sangat memukau, sifat yang baik, sopan dan ramah, bakat aktingnya sangat baik dan.. bla bla bla..” selagi Hyunhee menceramahi Soonhye, Soonhye justru kembali tenggelam pada masa dimana semalam ia bertemu dengan namja yang benar-benar tidak bisa diduganya bahwa dia seorang artis.
Bagaimana pertemuan semalam menjadi topik yang akan masuk kedalam majalan dan media masa pagi ini? bagaimana jika semua orang termasuk sahabatnya sendiri yang menyukai namja bernama Donghae itu mengetahui bahwa gadis itu adalah dirinya.
Masalah baru apa lagi yang harus kuhadapi? Satu masalah saja belum selesai, kenapa masalah baru lagi harus menyerangku secara mendadak seperti ini?
Soonhye merasa jalan pikirannya perlahan mulai kusut seperti benang.

Soonhye’s Pov

Aku berjalan keluar dari gedung universitas Kyunghee. Hari ini kegiatan jam kampusku lumayan padat, belum lagi Mister Kim belum lama menghubungiku untuk datang ketempat kerjanya.
Fiuuhhhhhh, sebenarnya aku ingin sekali keluar dan mengundurkan diri cepat-cepat dari pekerjaan itu. namun, entah sampai kapan hal ini akan bertahan, setiap kali ingin mengatakannya, selalu saja seperti ia menghalangiku denga memberikan tugas banyak-banyak sampai sampai aku kewalahan sendiri.
Seperti pertanda dari Tuhan, aku memang tidak diperkenankan untuk lepas dari masalah penderitaanku selama berkerja disana.
Aku berjalan pada satu tujuan yaitu tempat bekerjaku saat ini, tidak peduli selama apapun aku harus menjalankan kakiku hingga akhirnya sampai disana.
Masalah sepertinya sedang bertubi-tubi datang kepadaku, dimulai dari sidebkolektor raksasa super menyebalkan itu, insiden ponsel yang tertukar yang membawa diriku masuk kedalam majalah pagi ini, ditambah lagi dengan hilangnya dompetku.
Alhasil, hari ini aku harus berolahraga maraton dengan berjalan kaki ketempat kerjaku.
Mister Kim. Aissshh, menyebut namanya saja sudah membuatku malas. Namja setengah pria itu selalu saja menyuruhku tanpa ada rasa sedikit kasihan pada anak buahnya ini.
Menyuruhku dengan seenaknya seperti aku ini bukan pekerja, tapi budak!
Selama beberapa menit kuhabiskan untuk berjalan menuju tempat tujuanku, aku sempat melihat sekilas seorang namja dari arah kejauhan. Namja itu sedang menempelkan sebuah ponsel ditelinganya.
Tawanya bisa kudengar dari tempatku berdiri. Tanpa sadar ia tidak melihat aku sedang menatapnya dari kejauhan.
“itu.. ah~ HYUNWOO-aaaahh.” Teriakku memanggil seorang namja yang kumaksud.
Namja itu berhenti melangkah, masih tetap menempelkan ponselnya tapi kali ini pandangannya yang sejak tadi menjurus bahagia mulai sedikit terlonjak mendapatiku.
Aku segera berlari menghampirinya. Hyunwoo memasukkan ponsel ditangannya kedalam saku celananya. Terlihat sekali senyumnya itu sangat dipaksakan saat aku berdiri dihadapannya dengan nafas setengal tersengal-sengal.
“Hyunwoo~aah. Apa kau sudah melunasi hutangmu itu di bank?” tanyaku tanpa berbasa basi lagi padanya.
“woaaahh, Soonhye-ssi, baru datang saja kau sudah menanyakan hal itu padaku? Kenapa kau tidak menyapuku terlebih dahulu?”
PLAKKKK, aku menjitak kepalanya begitu dengan entengnya ia mengatakan hal itu padaku.
“Kim Hyunwoo. Mulai saat ini aku tidak mau berbasa basi lagi pada namja brengsek tak tahu diri sepertimu. Kau tahu, gara-gara hutangmu yang katanya sudah semakin menggunung di bank, pihak debkoletor itu semakin terus menerorku dengan kedatangannya. Apa kau mau lari dari masalahmu?”
Mata Hyunwoo mendelik dan membulat tajam, sepertinya namja itu tidak terima dengan hinaan yang barusaja keluar dari mulutku.
“yak~ apa katamu? Darimana kata-kata itu kau dapatkan? Kau menyebutku dengan sebutan brengsek tak tahu diri? Kau pikir kau siapa bisa mengejekku seenaknya seperti itu?”
Aku terkekeh pahit “jika kau merasa dirimu hebat dan mau bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan hingga membawa namaku yang tidak ada hubungannya sama sekali, kenapa kau tidak selesaikan cepat-cepat dan buang namaku keluar dari masalahmu.” Bentakku tidak mau kalah.
Hyunwoo mengepalkan tangannya “dengar, Im Soonhye, aku pasti akan membayarnya, tapi bukan hari ini!!”
“kapan? Berapa tahun lagi kau akan membayar hutangmu? Kau akan melunasinya setelah rumahku akan disita oleh pihak bank? Hah?? Kau tahu, ancaman yang diberikan dari mereka adalah, jika dalam satu hari ini kau tidak melunasi hutangmu, mereka akan mengambil rumahku. Lalu jika sudah begitu, apa yang akan kau lakukan?” aku menahan nafasku agar tidak terlalu kalap walaupun rasanya api sudah berkobaran diatas kepalaku.
“itu deritamu! Salahkan dirimu kenapa kau sangat bodoh dan mau kuperdaya begitu saja.”
Aku langsung mengernyit kecewa. Apa?? kau benar-benar cari mati ditanganku, Kim Hyunwoo.
Dengan gampangnya, namja itu membalikkan tubuhnya memunggungiku cepat-cepat dan melenggang pergi.
Aku langsung menarik lengannya dan membawa tubuhnya kembali kehadapanku. Tapi satu tangannya menampikku untuk menjauhinya.
“Hyunwoo~aaa, kenapa kau mau pergi lagi? kau sengaja menjadikan masalahmu jatuh ketanganku? Hyunwoo~aa cepat bayar hutangmu.”
Rengekku menarik tangannya agar ia bisa mengerti maksudku.
Hyunwoo tetap mendorong tangannya yang masih berpegang dilengannya.
“yak! gadis bodoh, jika kau tidak mau bersabar, kau harus merelakan rumah jelekmu itu diambil oleh pihak bank. Cepat lepaskan tanganku.”
Hyunwoo mendorong tubuhku dengan sangat kasar, membuat tubuhku langsung limbung nyaris jatuh ketanah.
Tapi sepasang tangan kokoh langsung menangkap tubuhku dengan sigap.
Orang itu langsung memelukku dari belakang. Membentuk benteng didepan dadaku.
Mata Hyunwoo mendelik hebat. Badannya membeku ditempatnya melihat orang dibelakangku.
“bisakah bersikap sopan dan lembut pada wanita.” Suara namja bernadakan lembut memperingati Hyunwoo.
Aku mendongakan kepalaku untuk melihat namja yang sedang mengkap tubuhku ini.
Aigooo, namja itu..
“siapa kau?” tanya Hyunwoo memaksakan nada bicaranya terdengar berani.
Namja dibelakangku ini sempat melirikku, matanya membentuk senyuman kemudian matanya beralih pandang kepada Hyunwoo dengan sikap tegas.

“aku? Tidak penting untuk mengetahui siapa aku.”
tapi Hyunwoo semakin terkejut, dari wajahnya yang sangat jelas itu tiba-tiba ia berjalan mendekat satu langkah kami.
“kau.. kau Donghae kan?
Aku menganga. Kenapa dia bisa tahu?
“sepertinya kau sudah mengtahuinya. Tuan, aku memang tidak tahu siapa dirimu, tapi bisa jelaskan kenapa kau harus mendorong Soonhye-ssi hingga membuat tubuhnya hampir jatuh?”
“bukan urusanmu! Itu urusam kami.” Hyunwoo membentak namja itu.
“aku memang tidak tahu urusan kalian, tapi aku tidak akan membiarkan temanku sendiri apalagi seorang wanita mendapatkan perlakuan kasar pada namja sepertimu—“ aku menghentikkan ocehan namja bernama Donghae itu saat tanganku menarik lengannya pergi menjauh dari si namja brengsek Hyunwoo itu.
“Soonhye-ssi, kenapa kita meninggalkan namja itu?”
Aku menghentikan langkah kami dan berbalik menatapnya bingung dengan alis mulai berkerut-kerut.
“tuan Donghae, darimana kau tahu aku disini?”
Donghae berkacak pinggang, namja itu merogoh sakunya dan tangannya memegang sebuah dompet berwarna biru yang sangat kukenal. Itu dompetku!
“ini.” Donghae menyodorkannya dan aku langsung mengambilnya.
“aku mengetahui nama, dan universitasmu dari dompet itu. lagipula, sepertinya semalaman kau sangat lelah. hingga menjatuhkan dompetmu sendiri didalam mobilku.”
“kamshamnidha. Aku sangat berterima kasih padamu, akhirnya kau menemukan ini.”
“aku akan menerima ucapan terima kasihmu jika kau melakukan sesuatu untuk membantuku. Bagaimana?”
Aku memajukkan kepalaku sedikit “membantumu?”
Donghae mengangguk “bagaimana? Jujur saja, saat ini aku hanya sedang membutuhkan seseorang seperti dirimu, yang siap membantuku dalam masalah yang sedang menimpaku. Bagaimana?”

*TBC..

Mian kalo gaje dan banyak typo.. ff lama soalnya :DDDDD
RCL JANGAN LUPA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar