Jumat, 02 September 2011

Destiny (Part 2)

Author’s Pov

“apa? berpura-pura menjadi pacarmu?” mata Soonhye melotot lebar serta rahangnya yang terbuka lebar sampai-sampai ia tidak sadar untuk menutup kembali rahangnya.
Jung Min dan Donghae menatap secara bersamaan gadis yang sedang berada diruang kerja pribadi Jung Min. pria berkaca mata itu memberikan artikel yang sebenarnya Soonhye sudah pernah membacanya saat Hyunhee datang kerumahnya untuk menunjukkan topik itu.
Lalu majalah lain tersodor juga diatas meja kerja Jung Min. namja itu memaparkan majalah tersebut kehadapan mata Soonhye.
“Guy?” Soonhye semakin tidak percaya.
“itulah alasan mengapa aku sangat membutuhkan bantuanmu.”
“tapi apa kau yakin ini akan berhasil, bagaimana jika teman-teman dan keluargaku tahu bahwa orang yang sedang berakting menjadi pacarmu itu adalah aku? Apa kata mereka jika saja aku yang berperan menjadi pacarmu dan tidak lama lagi namaku akan masuk kedalam surat kabar?” Soonhye merasa sedikit keberatan.
“jika kau mau, kami bisa melakukan hal ini tanpa menyorotkan wajahmu kepada kamera. Kau bisa menyamar selagi penyamaranmu masih seperti wanita, dengan begitu para wartawan tidak akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya.” Jelas Jung Min. sesaat suasana hening menyelimuti ketiga kubu itu. sedangkan Soonhye sendiri masih mempertimbangkan tawaran itu.
“kami bisa membayar berapapun sesuai yang kau mau jika kau mau menerimanya.”
Soonhye menolehkan kepalanya cepat-cepat dan menggeleng
“tidak, tidak perlu! Aku tidak menginginkan bayaran sepeserpun. Emm, Baiklah, Aku rasa tidak ada salahnya membantumu, jika ini memang sangat genting dan aku bisa melakukannya, kenapa aku tidak mencobanya.” Soonhye akhirnya menerimanya. Sambil menyandarkan punggungnya, ia bisa merasakan namja itu begitu senang mendengar Soonhye menerima tawarannya.
“baiklah. Kurasa kesepakatan sudah dibuat. Kami akan berusaha membuat media dan para wartawan tidak menyorot wajahmu dan dengan begitu kau tidak akan diketahui.” Ujar Jung Min menyepakatinya.
Soonhye mengangguk setuju “oke. Aku juga akan bersikap semampuku melakukan hal ini. kira-kira pekerjaan ini akan berlangsung berapa lama?” tanya Soonhye.
Entah mengapa saat itu Donghae dan Jung Min menatap diri mereka satu sama lain, lalu pandangan mereka mendapati wajah Soonhye berbalik bingung.
“kami juga tidak tahu berapa lama hal ini akan berlangsung, tapi kami usahakan akan secepat mungkin dan masalah ini tidak akan memberatkanmu. Arraseo?”


************************

Soonhye’s Pov

2hari setelah kesepakatan yang telah dibuat antara aku dan kedua namja bernama Jung Min dan Donghae itu berlangsung, akhirnya kami bertemu lagi didalam ruang kantor Jung Min.
Untuk memulai misi pertama kami, Jung Min terlihat sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari pakaian dan asset yang sudah dipersiapkannya.
Entah asset apalagi itu aku tidak bisa menyebutkannya satu persatu.
Jung Min mengambil satu set pakaian lengkap dan memberikannya padaku.
“untuk adegan pertama, kau harus memakai ini. kemungkinan dengan pakaian yang akan kau kenakan ini, tidak terlalu menampakan dirimu yang sesungguhnya.” Kata Jung Min sebelum ia lebih memerintahkanku memakai baju yang harus kukenakan.
Aku mengernyitkan dahiku “lalu bagaimana jika wajahku tertangkap kamera?”
“aku sudah menyiapkan kaca mata hitam dan sebuh topi, dengan begitu kau tidak akan ketahuan. Bagaimana?” tanya Jung Min meyakinkanku.
Aku langsung mengangguk, kedengarannya cukup masuk akal.
Tidak butuh waktu lama saat melenggang memasuki ruang ganti pakaian, aku sudah mengenakan atributku. Kuakui, bentuk pakaian ini tidak sama dan cocok dengan style yang biasa yang kukenakan.
Ini terlihat sedikit glamour dan.. menggelikan.
Agak terlalu berlebihan saat pakaian rok dan jaket yang diikat dengan satu belt berwarna coklat membuatku sedikit terlihat anggun dan terlihat lebih seperti wanita.
Aisshh, aku tidak suka gaya pakaianku seperti ini.
Jung Min sudah berdiri didepanku, mengamatiku dengan saksama. Sepasang tangannya dilipat didepan dada, hampir sepenglihatanku kepalanya mengangguk-angguk, puas dengan apa yang kukenakan.
“cukup menarik. Tidak ada keraguan jika seandainya para wartawan akan menyangkan kau benar-benar yeoja milik Donghae.” Kata Jung Min dengan senyumnya penuh kemenangan.
Kukibas-kibaskan satu tanganku didepan wajahku, ingin sekali rasanya mengikat habis rambutku saking sudah tidak tahannya lagi menahan udara yang semakin membuat tubuhku merasa kepanasan.
“lalu Donghae kemana? Sejak tadi aku tidak bertemu denganny?” tanyaku.
“dia sudah bersiap terlebih dahulu diparkiran mobil sana. Menunggumu, makanya kau harus cepat-cepat.”
Donghae sudah menunggu? Oh berarti sudah daritadi ia menunggu kedatanganku, kupikir dia memang sengaja terlambat karna jadwalnya mengingat dia seorang penyanyi.
“baiklah kita langsung kesana saja..”



Sesampainya kami ditempat parkiran, aku sudah bisa melihat satu mobil sport berwarna merah terparkir diujung tempat lapangan parkir sana.
Kulihat Jung Min yang berdiri memasukkan kedua tangannya kedalam saku dan berdiri menempatkan disampingku menyodorkan sebuah kaca mata hitam.
“kau bisa langsung memakai ini dan menghampiri namja didalam sana yang akan keluar. Lalu disitulah kalian akan mulai beraksi.” Kata Jung Min saat aku memakai kaca mata itu.
Suasana mendadak menjadi gelap. Aku berusaha memandang Jung Min didepanku dengan mata setengah disipitkan dibalik kaca mata hitam yang kukenakan.
“beraksi? Memangnya aksi apa yang kulakukan bersamanya? Kau tidak akan menyuruh kami berciuman kan?”
Jung Min langsung tersedak, lebih tepatnya namja itu nyaris tertawa lepas.
“dasar gila, aku masih bertanggung jawab atas nyawamu jika saja para fans Donghae akan membunuhmu beberapa menit setelah foto ciumanmu akan tersebar jejaringan internet.” Jung Min menggigit bibir bawahnya menahan tawanya.
“lalu apa yang akan kulakukan?”
“kau hanya perlu berpose seolah kau sedang menemui Donghae dilapangan parkir sana. Donghae masih belum tahu kau sudah berada disini, jika kau berjalan menghampiri mobil itu, pastikan kau sedang menghubunginya, dengan begitu dia akan keluar dan kamera yang sedang memotret kalian akan memuat gambar seolah kalian pasangan kekasih yang sedang mengadakan pertemuan pribadi. Bagaimana? Tidak terlalu burukkan?”
Jelas Jung Min panjang lebar. Aku hanya mengangguk menyetujui pendapat itu. tidak terlalu sulit, walaupun profesiku bukan seorang model yang notabene harus berpose didepan kamera, tapi setidaknya aku bisa melakukan hal yang diperintahkan Jung Min. tenanglah, Soonhye.. ini tidak berlangsung lama~
Kubuka flip ponsel yang sedang ada ditanganku, mencari nama asing yang baru kukenal lalu mendekatkannya ketelingaku.
Tak butuh 3detik ia sudah mengangkatnya dari ujung sana.
“kau siap?”
“tidak sepenuhnya, tapi aku akan lebih merasa siap jika kau yang harus keluar duluan.” Jawabku enteng.
Pria disana mendesah “baiklah, nona cerewet.”

Donghae telihat keluar, wajahnya yang memakai kacamata nyaris sama seperti kaca mata yang sedang kukenakan tampak begitu membuat garisan wajahnya dari jauh terlihat cukup tampan.
Belum lagi saat dirinya menggunakan jaket kulit hitam yang menutupi tubuhnya, aissshhh apa yang sedang kau pikirkan, Im Soonhye. Ingat sebentar lagi begitu pekerjaan ini selesai, wajah namja itu akan terlewatkan begitu saja.
“kau dimana?” tanya Donghae.
“aku sudah keluar, kau bisa melihatku kan?” kataku sambil melangkah dan menatap namja itu dari kejauhan.
Tepat hitungan ke2 dia berhasil menemukanku. Tangannya melambai kearahku. Dasar bodoh, kau pikir aku belum bisa menyadari kehadiranmu disitu?
Aku berhenti sejenak, masih menatapnya dari kejauhan.
“kenapa berhenti? Kau harus lebih mendekat kearahku.” Kata Donghae memerintah.
Aku menghembuskan nafasku berat sebelah “haruskah? Aku terlihat terlalu frontal.”
“maksudmu?”
Entahlah, tapi aku merasa ada sedikit keanehan didalam diriku, Donghae.
Ingin sekali kuutarakan hal itu padamu.
“diam disitu.” Tiba-tiba saja namja itu berbisik perlahan didalam telfon namun membuatku sedikit tersentak.
“ne?”
Tanpa ada jawaban lagi, namja itu melenggang menghampiriku, entah mengapa tiba-tiba saja jantungku dibuat ikut berdetak lebih cepat dari biasanya seiring langkah kaki Donghae yang begitu cepat berjalan.
Donghae semakin mendekat dan pada akhirnya sampai didepanku, lebih dekat hingga nafasnya bisa kurasakan menerpa wajahku. Walaupun kaca matanya menghalangi matanya yang belum bisa kukenal, tapi aku sangat meyakini matanya juga membentuk sebuah senyuman seperti bibirnya yang terukir sunggungingan kearahku.
“kenapa gugup seperti itu?” tanya Donghae setelah gigi-giginya terlihat ditunjukannya.
Aku langsung menundukkan kepalaku, apakah benar aku terlihat sangat gugup?
“hei lihat aku.” Bujuk Donghae lembut.
Seketika itu juga wajahku ditarik oleh satu jari yang menarikku lembut lalu mempertemukan mataku dengan paksa kedalam pandangan namja dihadapanku.
Udara semakin rasanya tersendat untuk masuk memenuhi rongga paru-paruku. Begitu tersiksa rasanya secara bersamaan darah yang mengalir didalam tubuhku seperti berhenti.
Aissshh Tuhan, ada apa dengan saluran yang mengalir diseluruh organ vitalku.
PROK PROK PROK. Mendadak keheningan yang lebih mencekam diantara kami berdua terisi oleh suara tepuk tangan yang berasal dari arah sebelah kiriku.
Kami sama sama menoleh dan mendapati Jung Min sudah berjalan bahkan setengah berlari kearah kami.
Wajahnya tersungging senyum puas, lalu dibelakangnya tampak beberapa orang pemegang sebuah kamera berhamburan.
Donghae melepaskan jentik tangannya dari daguku lalu melepaskan kaca mata hitamnya.
“berhasil! Bagaimana pose kami tadi, Hyung?” tanya Donghae memukul lengan Jung Min pada saat namja berkaca mata itu menghampiri kami.
“kalian tampak sangat sempurna. Aku yakin, para wartawan dan netizen akan menyangka kalian memang mempunyai hubungan khusus. Dilihat dari pose kalian tadi, aku yakin semuanya akan berjalan sesuai harapan.”
Kubuka rahangku perlahan. Jadi semua itu tadi bagian dari aktingnya? Aissshh, bodoh sekali aku ini. ia nyaris membuatku jatuh pingsan karna saking dekatnya ia tadi menatapku. Lalu jika sudah begini, apa yang harus kulakukan? Jika ia menyadari sejak tadi jantungku berdebar hebat saat ditatap olehnya, apa aku harus siap menelan ludah menahan malu?
Donghae dan Jung Min sama-sama merangkul tubuh mereka sendiri. Jung Min tampaknya menyadari masih ada wanita diantara mereka yang sedang asik menikmati kegalauannya sendiri.
“jadi pekerjaanku sudah selesai kan?” tanyaku berharap mereka tidak akan berpikir seperti halnya apa yang sedang kupikirkan.
“belum~ kau harus ikut dengan kami merayakan keberhasilan ini. bagaimana jika kau mampir kerumahku sejenak?”

************

Kujapit sepotong daging asap yang barusaja masak diatas pembakar daging. Tanpa memedulikan rasa panas yang langsung membakar lidah dan tenggorokanku, aku tetap menikmatinya.
Dan satu lagi, tanpa memedulikan tatapan sepasang mata dari kedua namja didepanku. Bisa kudengar desisan menahan tawa mengiringi suasana kami kala itu.
“kelihatannya kau sangat lapar.” Celetuk Donghae yang langsung mendapat sikutan tangan dari Jung Min.
“memang iya. Sejak tadi siang kalian bahkan tidak memperbolehkanku untuk keluar hanya sekedar mengisi perutku. Jadi wajarkan saja jika kalian harus disuguhi oleh pemandangan yang tidak mengenakan seperti ini.”
Ujarku memakan potongan daging yang baru matang lagi.
“sudahlah, biarkan saja dia memakan makanan sebanyak mungkin. Kita juga salah karna terlalu mengamankan dia dengan cara seperti tadi. Mianhe ya, Soonhye-ssi.” Jung Min menyodorkan segelas air putih untukku.
Aku menyambarnya cepat-cepat begitu rasanya potongan daging itu menyangkut ditenggorokanku.
“gomawo..”
“lalu tugasku selanjutnya apa? tidak ada lagi kan
? Berarti hari ini hanya sebatas sampai sini?”
Jung Min dan Donghae menatap mereka dan aku saling bergantian.
“kita tunggu sampai album dan konser launching Donghae akan digelar 3hari lagi. jika berita mengenai kedekatanmu dengan Donghae semakin menjalar dan mendapat respon yang seperti kita inginkan, akan kupastikan kau tidak akan bermasalah lagi denganku. Sekali lagi mianhe jika sudah merepotkanmu hari ini.” ujar Jung Min membungkukkan tubuhnya seperempar bagian.
“aku senang bisa membantu kalian. Jadi jangan terlalu bersikap formal padaku.”
“haha.. terima kasih karna sudah mengerti keadaan kami. Sebagai pemberian rasa terima kasihku, bagaimana jika aku memberikanmu 2tiket konser launching album Donghae nanti?”
Aku tersedak sampai nyaris mengeluarkan air didalam mulutku kembali. Donghae yang memang menyadari akan hal itu memberikan selembar tissue padaku.
“ada yang salah?” Jung Min balik bertanya setelah dia merasa ada keanehan.
Aku menggeleng. “anniya, aku hanya terkejut saja. kau mau memberiku 2tiket? Untuk apa? jujur saja karna aku tidak terlalu bahkan memang sama sekali tidak mengenal penyanyi bernama Lee Donghae ini, aku tidak bisa menjamin akan menikmati konser itu selagi para idola mu akan berteriak histeris disekelilingku. Sedangkan aku hanya bisa merenungi keadaan dalam diam bahwa ketika kau menyanyikan lagu-lagumu yang sama sekali tak kuketahui.”
Donghae mengernyit lalu menoleh kearah Jung Min dengan pandangan sedikit shock. Apakah kejujuranku perlu diragukan seperti itu?
“kau tidak mengenal Donghae? Bahkan mendengar kabarnya sekali pun?”
“kabar apa? ah~ mianhe sebelumnya bukannya merasa aku ini sombong, anggap saja aku ini orang yang sangat kampungan akan pemberitaan para artis sepertimu. Tapi sungguh aku jarang sekali mendapat kabar pemberitaanmu.” Tambahku sambil menopangkan daguku disela-sela jari tanganku yang mengapit bersamaan.
“termasuk kejadian 2tahun lalu?”
Aku menoleh seketika “eh?”
Jung Min berdeham hingga suasana aneh saat itu terpecahkan.
“ahahahah sudahlah jika memang Soonhye-ssi tidak tahu. Soonhye-ssi, jika memang kau tidak mau, kami bisa menggantinya dengan bayaran uang. Jujur saja aku merasa tidak enak jika orang sepertimu sudah membantu kami justru tidak mendapat imbalan apa-apa.”
Aku mengangguk-angguk “benar, jangan beri aku uang. Lebih baik aku menerima 2 tiketmu itu ketimbang harus menerima bayaran uang. Aku bukan penikmat maniak uang. Jadi santai saja.” kataku lalu tertawa.
“tapi kau bilang, kau tidak mau menerima 2tiket dari Jung Min Hyung dengan alasan ‘kau belum sepenuhnya mengenaliku. Sebaiknya kau tidak usah datang, itu akan mengacaukan acaraku” Donghae memperagakan gaya bicaraku barusan.
“mwo? Aisshh, dengarnya, kau tidak lupa tadi aku barusaja berhasil menjalankan peranku sebagai pacar palsumu? Kau mau aku bertingkah seperti layaknya fans paling fanatikmu? ‘Donghae Oppa. Aku sangat mencintaimu. Kau itu tampan sekali bahkan ketampananmu mengalahkan ayahku Saranghaeyo Oppa’ bagaimana?”
Ujarku tak kalah memperagakan gaya ala seorang fans yang langsung dibalas runcingan pandangan Donghae yang tidak suka akan tingkahku.
Sedangkan Jung Min membungkam mulutnya serapat mungkin menahan gelakannya yang akan meledak.
“ha..ha tenanglah, lagipula aku punya teman yang bisa kuajak nonton konsermu itu. tenang saja, aku akan membuat alasan mengapa aku bisa mendapat tiket itu. apa kau mau aku berlagak seperti seorang idola yang mengagumi dirmu seperti fans fanatikmu.” Tanyaku sambil sedikit memajukan posisi tubuhku didepan Donghae.
Donghae langsung membuang muka “cih~ lebih baik kau tidak usah datang ketempat konserku jika pada akhirnya kau akan merusak semuanya dengan aktingmu seperti itu.”
Kunaikan sebelah alisku “mwo? Kau meragukan kemampuan aktingku? Ya~ Donghae-ssi, kau pasti akan memberikanku tepuk tangan seheboh mungkin jika saja kau sudah melihat aksi kepura-puraanku sebagai seorang fans fanatikmu dikonser launching nanti.
Jung Min-ssi, aku menerima 2tiket pemberianmu itu.” ujarku sekeras mungkin, dan hal itu sontak membuat kedua alis namja itu naik secara kompak. Jung Min masih menjepit potongan daging asapnya hanya bisa menahan tawa selagi kami berdua melihat kekagetan Donghae.


******************


Author’s Pov
“Huwaaaaaaaaa.. Soonhye-aah, aku benar-benar tidak percaya atas dua tiket ini. ini sungguhan, kan? Kau tidak main-main memberikan ini padaku? Hyaaaaaaa~” teriak Hyunhee disamping Soonhye yang sedang berbaring diatas ranjangnya dengan membungkus tubuhnya sendiri menggunakan selimut tebalnya.
Soonhye memunggungi temannya yang sedang asyik berhisteris ria. Ia tahu sebelum Jung Min memberikan 2tiket pada Soonhye, gadis itu sudah bisa mengira respon balik dari Hyunhee yang juga merupakan salah satu dari sekian banyaknya fans pecinta Donghae.
“berterima kasihlah pada Mister Kim. Berkat kerja kerasku dia mau memberikan 2 tiket itu.” alasan yang tidak cukup bahkan sama sekali tidak masuk akal. Jika Mister Kim memang benar-benar memberikan 2tiket itu, ia bisa jamin saat itu Mister Kim memang sedang bermasalah dengan kerja otak kanannya.
Bonus kerja? Cih~ bahkan sampai dia memilih mengambil jam malam, ia nyaris tidak mendapatkan bonus sepeserpun dari tangan pria setengah wanita itu.
Hyunhee seketika mengguncang-guncangkan tubuh Soonhye, membuat gadis itu akan roboh dari tempat tidurnya.
“Soonhye-aah, berkat kerja kerasmu, keinginanku yang sebelumnya tidak pernah terbesit untuk kemungkinan terjadi akan menjadi nyata. Setelah kau memberikan tiket ini padaku dan kita akan menontonnya bersama-sama. Gomawwooooo.” Pipi Soonhye dikecup Hyunhee, membuat aura ganas gadis itu semakin berapi-api.
Barusaja Soonhye akan melemparkan bantal dipelukannya, ponsel Soonhye mendadak berdering keras. Suasana gaduh yang mereka ciptakan berubah menjadi hening. Dari tempat tidurnya, Soonhye langsung meloncat dan menyambar ponsel miliknya.
“yoboseo?”
“Soonhye-ssi, kau dimana?” ternyata Donghae lah yang menghubunginya.
“dirumah. Ada apa?”
“bisakah kita bertemu sekarang. Aku butuh bantuanmu.” Perintah Donghae dengan nada sedikit terasa menjauh.
Untuk apa lagi dia meminta bantuanku? Bukankah Jung Min bilang aku sudah tidak punya urusan apa-apa lagi dengannya?
“hanya membantu hal ringan saja, bisa?” seolah bisa menembus pikiran Soonhye saat ini begitu saja.


*******************

Soonhye menghentikan kakinya bergerak setelah ia tengah sampai dipersimpangan taman kota untuk menunggu seseorang.
Bukan menunggu, melainkan ia sendiri sudah ditunggu oleh orang itu. dikejauhan ada mobil sport warna merah yang mulai dikenalinya. Tanpa berpikir panjang ia kembali melangkah dan mendekatkan dirinya pada parkiran mobil yang sedang tergeletak itu.
Soonhye mengetuk pintu mobil hingga kaca mobil turun dan terbuka.
“naiklah, aku harus memberitahumu sesuatu.” Perintah Donghae dengan nada lurus tanpa ada basa basi. Anehnya, Soonhye malah mengikuti perintahnya saja walaupun mendadak perasaan sedikit kesal muncul dibenaknya.
“ada apa?” tanya Soonhye setelah menutup pintu mobil.
Donghae pun melepas topi berwarna hitam dan kaca mata hitamnya. Ia sedikit menghadapkan tubuhnya kearah Soonhye.
“begini, sepertinya aku membutuhkan beberapa barang hadiah bingkisan untuk para penggemarku.”
“mwo? Kau mau membeli berapa banyak untuk para fansmu itu?”
Soonhye sedikit kaget.
“tidak semua. Hanya beberapa orang yang beruntung. Dan karna kau masih terikat kontrak kerja padaku, kau harus membantuku dalam masalah ini, bagaimanapun itu. kau mau?” kata Donghae. Donghae mulai menjalankan mobilnya mulus tanpa deruan mesin mobil meraung seperti ceetah berlari.
Soonhye memutar bola matanya, kontrak kerja? Cih~ kapan dia punya kesepakatan tentang hal itu.
“kau mau cari dimana? Apakah kita tidak akan kepergok oleh orang lain jika saja kita ketangkap tengah jalan berdua?” tanya Soonhye menolehkan kepalanya menuju Donghae yang sedang menyetir.
“tidak akan. Aku akan ketoko langgananku. Mereka akan mengira kau salah satu dari staff pribadiku.” Jawab Donghae enteng.
Beberapa menit kemudian tidak lama mereka menghabiskan waktu keheningan yang sangat sunyi didalam mobil Donghae, mereka sampai ditempat toko distro langganan Donghae.
Mereka mulai keluar dan masuk bersama. Soonhye berjalan membuntuti Donghae dibelakangnya, menatap beberapa etalase dan replica pakaian yang diperagakan oleh manekin yang cantik dan tampan.
“jadi apa yang harus kubeli untuk para penggemarku?” tanya Donghae menyadari Soonhye sedang asyik memandangi aneka baju dan berbagai macam aksesoris disana.
Soonhye menoleh kearah Donghae “De? Ada berapa orang yang kau pilih?”
“aku hanya memilih 10orang.”
“kenapa kau tidak membelikan mereka gelang saja?”
Donghae mengernyit “itu sudah pernah.”
“patung kecil?”
“tidak menarik.” Celetuk Donghae sembari berjalan mendahului Soonhye.
“bagaimana jika bros?”
Donghae tiba-tiba berhenti melangkah. Pandangannya tertegun pada apa yang dikatakan Soonhye. Walaupun wajah namja itu tidak sontak ditolehkan kearah Soonhye.
“itu sudah pernah sebelum konser ini akan berlangsung, lebih tepatnya 2tahun yang lalu.” Kata Donghae.
Soonhye menggaruk-garuk kepalanya, merasa nyaris menyerah kali ini. ia sendiri juga bingung harus memberikan pendapat apa untuk Donghae.
Ia sempat melirik sebuah manekin disampingnya. Sebuah syal berwarna hitam putih kotak-kotak membuat mata Soonhye sedikit terpaku. Ia menyentuh syal itu perlahan. Tatapan matanya menandakan ia menyukai syal itu.
“Donghae-ssi.” seru Soonhye memanggil Donghae.
“kenapa kau tidak membelikan mereka syal seperti ini saja?” tambah Soonhye sembari menunjukkan syal yang ia sentuh.
Donghae ikut menghampiri manekin tersebut dan memandangnya sebentar. Ia melepas syal yang dikenakan manekin itu dan beralih melilitkan dilehernya.
Donghae memandang dirinya didepan cermin yang letaknya tidak jauh dari mereka.
“bagus.” Merasa dirinya puas dan akhirnya Soonhye merasa lega akhirnya pendapatnya tepat.
“ini pantas kukenakan dikonser nanti. Baiklah, aku sudah putuskan akan membelikan mereka topi saja.”
“aissshhh. Dasar bodoh!” gerutu Soonhye.


**********************

3hari setelahnya, acara konser launching album baru Donghae mulai berlangsung.
Satu jam sebelum acara dimulai, para fans sudah mulai berdatangan dan mengantri digedung penyelenggara konser launching album baru Donghae. Penuh bahkan nyaris para penggemarnya harus berdesak-desakan.
Soonhye dan Hyunhee sampai ditempat. Mata Hyunhee berbinar-binar tidak percaya saat mereka datang ketempat itu.
“huaaahhh, akhirnya kita sampai disini, Soonhye-aa.”seru Hyunhee gembira sementara Soonhye hanya bisa mendengus kesal dan bersikap seperti biasa.
“tahun ini sepertinya jumlah penontonnya dikurangi. Mengingat insiden 2tahun lalu mungkin kali ini jangan sampai terulang lagi. ckckck, walaupun dikurangi jumlahnya, aku masih bisa merasakan histeris dan euforia dari para penggemarnya masih sangat membahana.” Seru Hyunhee lagi meninggikan suara agar bisa didengar dari sekian banyak suara yang mulai berdatangan ditempat itu.
“insiden 2tahun lalu? Memangnya ada apa?”
Hyunhee dan Soonhye mulai mengantri “kau tidak tahu? Yasudah nanti saja kuceritakan.” Kata Hyunhee.


Diacara pertama pertemuan FanMeeting, Donghae tampak mulai keluar dengan mengenakan syal yang ia pakai sewaktu ia dan Soonhye membelinya ditoko langganan Donghae.
Donghae mengumbar senyumnya bertegangan 10.000 volt, yang nyaris membuat seisi acara itu pingsan.
Satu persatu penggemarnya mulai berbaris untuk menerima kaset dan tanda tangan langsung dari Donghae.
Sampai tiba giliran Soonhye, senyum Donghae langsung berubah menjadi wajah terkejut.
Entah mengapa saat itu Soonhye merasa dirinya mulai mual dengan senyuman paksaan yang ia ukir dibibirnya.
“Oppa.. aku sangat menyukaimu.. semua lagu-lagumu sangat menarik. Mau kah kau memberikan tanda tanganmu dikaset ini?” rayu Soonhye alhasil membuat mata Donghae seakan hampir jatuh.
Dengan keadaan terpaksa, Donghae memberikan tanda tangan diatas kaset milik Soonhye. Lalu memberikannya dengan senyum paksaan yang dibuat-buatnya pada Soonhye.
Soonhye masih tetap memasang wajah paling manisnya, walaupun rasanya itu sangat memuakan baginya. Tanpa dipedulikannya goncangan tangan Hyunhee yang mendorong-dorong tubuhnya.
Soonhye menerima sodoran Donghae lalu sengaja meremas tangan Donghae dengan senyum semakin direkahkannya.
“gomawo, Donghae Oppa. Jeongmal Saranghae.. aku sangat mencintaimu.” Kata terakhir sebelum gadis itu berlalu dari hadapan Donghae.
Donghae semakin tercengang mendengar ujaran itu. setelah berlalu, Soonhye membuka mulutnya selebar mungkin dan tertawa tanpa bersuara. Diujung, Jung Min sudah melipat kedua tangannya dan memberikan acungan jempol pada Soonhye tanda ia mendukung aktingnya.
Soonhye hanya membungkuk memberikan hormat dan tersenyum cukup puas.


“waaaaaaaahhh, lihatlah dia Soonhye-aah. Dia begitu tampan sekali dipanggung sana” jerit Hyunhee tak kalah histeris saat namja itu sudah menampilkan performancenya. Suasana semakin bergemuruh ketika lagu demi lagu dinyanyikan oleh Donghae. Ditambah saat namja itu melakukan tarian gemulai dari tubuhnya membuat seisi ruangan ini semakin berombak bagaikan deruan ombak laut.
Dengan terpaksa dan ingin ikut meramaikan, Soonhye menjerit memanggil nama Dongahe seperti hal nya yang dilakukan fans lain.
Mengacungkan lightsticknya kemudian berseru ria.
Beberapa jam seperti yang ditentukan oleh acara, tibalah acara pembagian hadiah untuk beberapa orang yang beruntung.
Sang MC berserta Dongahe sudah berdiri tegak ditengah panggung.
Beberapa orang yang namanya terpanggil oleh si MC mulai berdatangan dan naik keatas panggung untuk mendapatkan hadiah mereka dan berkesempatan untuk bersalaman, berfoto dan memeluk Donghae.
“baiklah, 9orang sudah berutung mendapatkan topi kuning yang diberikan langsung dari Donghae sendiri. Tinggal satu orang yang beruntung yang akan memenangkannya. Tapi tidak adil jika kita hanya memanggil namanya. Bagaimana jika kita memanggilnya dengan cara memvoting melalui nomor mereka saja, Donghae-ssi?” tanya Si MC mengarah pada Donghae. Donghae memasang senyumnya dan hanya mengangguk setuju.
Diatas panggung, salah satu kru membawa kotak kaca yang berisikan nomor para penonton yang sebelumnya sudah tercatat sebelum mereka masuk kedalam sesi acara.
Donghae memasukkan tangannya dan mengambil salah satu secarik kertas yang berisikan nomor salah satu penontonnya.
Penontonmu sudah memegang ponselnya dengan keadaan wanti-wanti. Begitupun Hyunhee yang tak kalah ikut dibuat penasaran.
“aku berharap nomor yang dihubungi adalah nomorku.” Kata Hyunhee berharap.
Soonhye hanya mengangguk lemah karna dirinya sudah mulai setengah mengantuk.
Sementara itu, Donghae mulai menekan beberapa nomor dari kertas itu di ponselnya kemudian menempelkannya tepat ditelinganya.
Semuanya sunyi seketika menunggu ponsel siapa yang akan berbunyi.
“ASTAGA..” Soonhye tersentak saat ponsel didalam sakunya berdering dan lampu ponselnya menyala-nyala.
Semua orang mengarah padanya, dan kehisterisan semakin menjadi-jadi si MC menyuruhnya mengangkat panggilan masuk darinya.
Soonhye membuka ponselnya dan menatap nama yang ia tulis dengan 2huruf capital yang ia tulis ‘LD’ yang mengartikan nama Donghae didalam kontak namanya.
Tanpa memastikannya, sepertinya aku sudah yakin si penelfon itu adalah namja sialan itu.
“nona, bisakah kau mengangkat panggilan itu? siapa tahu itu benar-benar dari Donghae.” Pinta si MC itu sekali lagi.
Soonhye hanya bisa menyerah pada dirinya sendiri dan mengangkat panggilan itu.
“yoboseo?” jawab Soonhye was-was.
“hei nona.. bisakah kau datang dan menghampiri aku dipanggung ini?” suara Donghae yang ia kenal memenuhi pendengar dari para penonton.
Suasana semakin bergemuruh saat Soonhye dinyatakan sebagai orang yang beruntung mendapatkan hadiah terakhir milik Donghae.
Hyunhee yang tercengang disamping Soonhye adalah orang pertama sekaligus satu-satunya orang yang sukses membuat tubuh Soonhye diguncang-guncangkannya. Entah darimana kekuatan Hyunhee didapatkan, gadis itu sangat bahkan keterlalulan kuatnya mengguncangkan tubuh Soonhye.
Soonhye pun terpaksan mengikuti perintah sang MC dan Donghae untuk maju kedepan panggung.
Diiringi oleh tepuk tangan semakin membahana dan dua bodyguard yang mengantarnya hingga naik keatas panggung.
Wajah Donghae yang tenang berusaha menahan tawanya ketika yeoja bertubuh 169cm itu berdiri didepannya dengan mata menelidik dan meminta untuk dimakannya.
“tunggu sebentar nona, topinya sedang diambilkan oleh salah satu petugas kami.” Kata Si MC, namun beberapa menit tiba-tiba seorang yang mendekati MC itu dan membisikkan sesuatu pada MC itu membuat keadaan kembali hening.
“mwo?” desis pelan MC itu.
Soonhye merasa kakinya yang nyaris tidak menapak diatas panggung lagi merasakan ada sesuatu buruk mulai terjadi padanya.
Si MC membisikkan sesuatu ditelinga Donghae, wajahnya tampak sedikit berubah.
“oh Nona, entah mengapa satu topi yang tersisa hilang dibelakang panggung.” Kata Donghae bernadakan kecewa.
Soonhye membuka rahangnya. Emosinya kembali meluap dan rasanya sebentar lagi gadis itu akan menonjok wajah Donghae karna sudah membuatnya nyaris malu setengah mati.
“tapi…” kata Dongahe menambahkan “karna topi itu tidak ada… aku akan memberikan ini padamu..” tiba-tiba Donghae melepas syal bermotif kotak-kotak berwarna hitam putih yang sejak tadi dikenakannya.
Donghae memasangkannya dileher Soonhye hingga semuanya mendadak menjadi semakin berhisteris.
Soonhye menahan senyum dibibirnya. Entah mengapa dirinya merasa seolah tersanjung dengan perlakuan Donghae seperti itu.


******************

“aku yakin, pasti nomor yang kau hubungi itu bukan nomor yang tertera pada kertas yang kau ambil tadi.” Ujar Jung Min setelah acara selesai dan Donghae memasuki ruang istirahatnya bersama Jung Min.
Donghae menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sambil mengerling penuh kemenangan.
“sudah pasti. aku hanya ingin membuat yeoja itu merasa canggung setelah ia sempat mengerjaiku sebelum acara launching albumku dimulai. Ha ha, menurutmu bagaimana ekspresi dia tadi, Hyung?”




Soonhye dan Hyunhee berjalan didalam kegelapan malam yang menelusuri perjalanan pulangnya setelah mereka menghadiri acara konser launching album baru Donghae.
Soonhye masih tersipu malu dengan apa yang dikenakannya saat ini. sedangkan teman disampingnya masih tidak berhenti mencerocos tentang kejadian yang dialami Soonhye barusan diatas panggung.
Hyunhee menepuk bahu Soonhye untuk kesekian kalinya saking ikut bahaganya.
“kau benar-benar orang paliiiiiiiiingggg beruntung. Kau memang tidak mendapatkan topi kuning seperti yang didapatkan 9orang beruntung, tapi kau mendapatkan syal yang sejak konser tadi dikenakannya. Bagusssss sekali, Soonhye. Jika aku menjadi dirimu tadi, mungkin aku sudah tidak bisa menopang tubuhku lagi saat Donghae Oppa memasangkan syal nya dileherku.” Khotbah itu walaupun sudah didengar Soonhye ratusan kali, tapi ada kalanya ia juga ikut senang. Baru kali ini ia sesenang ini. padahal tadinya ia nyaris akan menendang perut namja itu jika saja ia tidak berhenti mempermalukan dirinya didepan ribuan orang yang sedang menontonnya.
“De. Aku memang sedang beruntung hari ini.” ujar Soonhye manis sambil menyentuh syal dilehernya.

**************

Soonhye’s Pov

BRAK BRAK BRAK…
Kubuka mataku seketika. Tidak sadar ternyata hari sudah pagi, dan sekarang aku dikejutkan dengan suara gebrakan yang mendadak membangunkanku seketika.
Aissshh, siapa orang tolol pagi-pagi buta seperti ini sudah membangunkanku?
Sejak kemarin setelah kepulanganku dalam menghadiri acara launching album baru namja itu, akibat dari efek teriak-teriakanku, alhasil aku harus menahan rasa gatal serta suaraku yang nyaris tak terdengar dan parau habis-habisan.
Kubangkitkan tubuhku sekuat tenaga dalam keadaan belum sepenuhnya sadar 50%. Gebrakan itu semakin membesar dan menjadi-jadi sebelum aku membukanya.
Kutarik kenop pintu dengan kasar dan membukanya dengan sontak. Tapi belum sempat melihat siapa orang yang datang, tubuhku terdorong oleh sepasang tangan. Membuat tubuhku limbung kebelakang 3langkah.
“Yak~ Im Soonhye. Kau tidak lupa kan dengan janjimu? Ini sudah lebih dari 4hari kau berjanji akan membayar hutangmu.”
JEGEERRRR… astaga, aku lupa. Siapa lagi si manusia kurang ajar yang akan mendobrak pintuku seperti tadi jika bukan si penagih hutang wanita tua ini. aissshhh, apa yang harus kulakukan?
“Young Geum-ssi. mhaafh, akkhu tidakh tahu kkhau akkhan dathang sepaghi inhi.” kupaksakan bibirku tetap tersenyum walaupun rasanya menarik sudut bibirku itu sama halnya dengan mengangkat besi seberat 10ton.
Young Geum langsung membuang nafasnya berat. Wajahnya memandangku rendah, seperti pertanda dia sudah tahu apa alasan yang akan didengar selanjutnya.
“apa katamu? Kenapa suaramu bisa jadi seperti itu?
jangan mengada-ngada lagi. sekarang sudah waktunya kesabaranku habis untuk kau permainkan. Kau mau membayar hutangmu dan membebaskan rumah ini dari jaminanmu atau kau harus merelakan rumah ini kau gadaikan.”
Kudongakan kepalaku menatapnya dengan mata nyaris terbelalak hebat.
“mb..mwho?” tanyaku sekali lagi tidak percaya. Aisshh, kenapa suaraku semakin mengerikan???
“itu semua ada pada keputusanmu. Kau mau membayarnya atau kau harus merelakan tempat ini untuk kau—“
“sudah hentikan!”
Tiba-tiba dari arah luar pintuku, suara namja menghentikan perkataan. Kami sama sama menoleh kesumber suara.
Hyunwoo?
“siapa kau?” tanya Young Geum pada Hyunwoo yang masuk tanpa permisi kedalam rumahku.
Hyunwoo tidak menggubris penelidikan Young Geum, matanya sempat melihatku sekilas sebelum ia membalas tatapan Young Geum yang garang.
Tangannya merogoh mantel tebal berwarna coklatnya kemudian satu tangannya yang barusaja masuk kedalam mantel jaketnya yang tebal menemukan amplop coklat tebal. Amplop itu langsung diserahkand diatas telapak tangan Young Geum. Seketika itu juga Young Geum berbalik membelalakan matanya menatap amplop itu.
“i..ige mwoya?” tanya Young Geum terbata-bata.
“kau tahu. Tidak seharusnya kau menagih semua hutangku pada Soonhye. Seharusnya orang yang kau cari adalah aku~ aku yang sudah membuat Soonhye masuk kedalam masalah ini. dia tidak pernah ada sangkut pautnya dengan masalah hutang piutang ini, dan maaf jika aku sudah merepotkanmu.” Ujar Hyunwoo ikut membuatku melongo.
Hampir saja aku menjatuhkan hidungku sendiri jika saja Hyunwoo tidak berdeham untuk mengembalikan kesadaranku.
“jadi.. jadi selama ini kau yang meminjam uang bank?” tanya Young Geum lagi.
Hyunwoo hanya mengangguk.

*******************

Kami duduk sembari memesan secangkir kopi di café terdekat. Wajah kami sama-sama berhadapan satu sama lain. Kamipun rasanya sama-sama memasang tameng wajah. Tidak peduli tatapan rasa bersalahnya, aku sudah cukup muak dengan semua yang pernah ia lakukan.
“kau masih dendam padaku?” tanyanya.
Kuangkat kedua bahuku malas.
“sudahlah, Jeongmal mianhe jika kau benar-benar sangat marah padaku. Terlebih karna sikapku kemarin. Jika aku boleh tahu, apa kau sudah mempunyai hubungan khusus dengan Donghae?”
Seketika itu juga aku menngangkat kepalaku “mwo? Ddharimanha kkhau tahu nama nnamjha itu?”
Dia langsung berdecak “aissshh, dia itu kan seorang artis. Wajar saja jika aku mengetahui namanya. Dasar bodoh!” celetuk Hyunwoo.
Aissshh, aku lupa Donghae itu seorang artis. Tapi tunggu, darimana Hyunwoo bisa mendapatkan perujaran seperti tadi? Hubungan khusus? Aigoo, apakah pemberitaan ditabloid yang memuat gambar-gambarku bersama dengan Donghae sudah diketahui? Jangan-jangan..
“tungghu, kkhenapa kkau bbisa bbihlhang akkhu punya hubhunghan kkhusus dhengan ddhia? Akhu shendirih saaja bahhkhan thidakh mengenhalnyah shrama shekali khalau dhia itu ssheorhang arhtis.” Timpalku.
“mwo? Yak~ hampir seluruh masyarakat di Seoul sangat mengenal baik siapa Donghae itu. walaupun aku tidak begitu menyukainya, tapi setahuku dia penyanyi yang sangat hebat. Hanya saja karna pemberitaan 2tahun lalu menyebabkan namanya sempat tenggelam cukup lama.” Hyunwoo memalingkan wajahnya sekilas saat aku menoleh kearahnya dengan pandangan sedikit terkejut.

Hari ini aku menghabiskan waktu dalam pekerjaanku. Mister Kim sudah kembali menjajahku dengan berbagai macam perintahnya. Bahkan ia tidak tanggung-tanggung memberikan tumpukan pekerjaan dalam satu waktu dan harus dikerjakan dan harus selesai diwaktu yang sama.
Sial! Entah mengapa sampai sekarang aku masih belum bisa merangkai kata untuk mengundurkan diri dalam butik terkenal ini.
Jauh didalam lubuk hatiku, sebenarnya pekerjaan ini merupakah bagian yang palung penting dari hidupku.
“Miss Immmmm..” teriakan itu kembali membahana dipenjuru tempat kerjanya, dan perlu kalian ketahui, belum ada semenit aku keluar dari ruang kerjanya yang berisikan beberapa kain perca dan manekin-manekin model pakaian. Haaaaa, sepertinya namja itu memang berusaha untuk cari mati ditanganku.
“yha Misterh Kim?” jawabku dengan suara tercekat menahan amarah setelah pintu ruangannya kembali terbuka.
Kakinya bergerak-gerak gusar seperti keseharian yang dilakukannya. Entah apa yang disibukannya, tapi tetap saja kesibukannya yang super tidak wajar itu melibatkan diriku.
“itu, Miss Im kau harus mengantarkan pesanan baju itu pada seseorang?”
Suruh Mister Kim sambil mengukur manekin wanita besar didepannya dan satu tangannya menuding tumpukan baju yang sudah dilipat rapi.
“khephada ssiapa, Misterh Khim?” tanyaku masih bingung.
“aissshh kau itu bodoh sekali. Ya kepada siapa lagi jika bukan pada Donghae?”
Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Donghae? Sipenyanyi yang kemarin barusaja kutemui?
Tubuhnya berputar setengah lingkaran mengarah padaku.
“kenapa Miss Im? Kau masih bingung? Ne, Miss Im super bodoh. Kau harus mengantarkan pakaian-pakaian itu pagi ini juga kepada Donghae. Baiklah, aku akan memberimu alamat rumahnya, tapi ingat, jangan sampai kau terlambat memberikan pakaian-pakaian itu pada namja super tampan itu.
Sekarang ini jadwalnya sudah kembali padat. Show diman-mana. jika tidak, aku akan memotong gaji bulananmu.”
Yak! Mister Kim. Apa kau tidak sadar, tanpa kau potong gajiku, aku sudah lebih dulu memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ini. ini lebih tersiksa jika dibandingkan pekerja budak yang disiksa majikannya.



Kutekan pintu bel rumah yang pernah kudatangi ini sebelumnya. Kesan dari rumah itu semakin elegan. Aku bahkan tidak menyadari rumah Donghae mempunyai bentuk arsitektur taman yang begitu berkelas dan seniman.
Mungkin keadaanku dimalam itu masih sangat menurun sehingga tidak menyadari akan hal itu.
Tidak lama pintu terbuka, dan Donghae sendiri yang membukanya. Aku yakin setelah ini dia akan terkejut mengapa pakaian-pakaian yang ia pesan berada ditanganku.
Tapi tampaknya, saat ia memperlihatkan dirinya, tidak ada kesan kesan Ia terkejeut dengan kehadiranku membawa tumpukkan pakaiannya.
“kau sudah datang?” tanya Donghae ramah dan tersenyum sedikit sumringah. Refleks aku memajukan kepalaku. Kenapa rasanya dia begitu tahu aku akan datang kerumahnya?
“sejak kejadian dompetmu tertinggal didalam mobilku, aku sudah tahu kau bekerja dibutik Mister Kim. Aku sengaja menyuruhnya memerintahkanmu untuk mengatarkan pakaianku.” Donghae menambahkan sebelum pertanyaan yang menjurus tentang hal itu keluar dari pikiranku. Sambil mengambil tumpukan-tumpukan pakaiannya, ia membawaku masuk kedalam rumahnya.
“jadi sudah berapa lama kau bekerja dibutik Mister Kim?” tanya Donghae sembari berjalan mendahuluiku.
Aku memberikan 3jariku kepadanya. Menandakan sudah 3tahun aku bekerja diperusahaan super menyebalkan itu.
Donghae malah mengerutkan keningnya dan tidak memfokuskan matanya pada jari yang sedang kutunjukkan.
“kenapa kau terlihat seperti orang bisu? Ada masalah?” tanya Donghae heran.
Aku menggeleng mengatupkan mulutku rapat-rapat.
“lalu kenapa kau tidak bersuara?” tanya Donghae lagi.
“tengghhorokhankhu sakhitt.” Jawabku sekuat tenagaku. Alhasil tubuh Donghae bergerak satu langkah mundur dengan mata terkejut.
“astaga, ada apa dengan suaramu. Kenapa suaramu mengerikan seperti hantu?” tanya Donghae.
Kumajukan bibirku tanda kesal. Aisshh.
“pasti gara-gara kemarin kau menjerit histeris?” tanya Donghae lagi.
Aku hanya mengangguk dan Donghae menanggapinya dengan menggelengkan kepalanya.
“tunggu disini sebentar. Aku punya obat untuk mengatasi suaramu yang parah itu.” Donghae segera menghilang dari hadapanku.
Seperti perintahnya, aku berdiri menunggunya. Mataku berotasi mengelilingi mataku keberbagai tatanan rapi nan elegan rumahnya yang nyaris serba putih.
Disudut tempat luas, aku melihat sebuah piano tergeletak indah. Aku berjalan dan mendekati letak piano itu ebrada.
Mataku mendapati diriku sendiri terpaku pada piano elegan itu. aku sengaja mengitari tanganku keatas permukaan piano itu. membuka tempat tuts piano berwarna putih itu dan beberapa tuts tertata rapid an bersih disana.
“jangan disentuh.” Suara Donghae mendadak muncu; mengejutkanku.
Kujauhkan tanganku segera dari tuts pianonya. Donghae mengampiriku dan kulihat segelas air berwarna coklat keruh mengisi didalam gelas itu.
Kusipitkan mataku dan mengarahkannya pada Donghae.
“jangan dilihat dari warnanya. Rasanya enak kok, lagipula jika kau meminum minuman itu, sakit tenggorokanmu akan sembuh.” Perintah Donghae menyodorkan segelas air keruh itu padaku.
Aku menerimanya dan meminumnya sedikit demi sedikit. Benar saja, rasanya sangat enak.
“kau sepertinya suka melihat pianoku ini?” tanya Donghae.
Aku mengangguk. Kutarik bahunya dan mendekatkannya pada piano itu. saat ia duduk dibangku piano, aku mengarahkan jari telunjukku pada tuts piano tersebut.
“Mhainkhan.” Perintahku.
“kau akan membayarku berapa?” tanya Donghae dengan suara yang dibuat-buatnya.
Aku berdecak kesal
“Baiklah. Kau mau aku menyanyikan lagu apa?”
“therserhah..” jawabku.
Donghae terdiam sejenak, lalu tangannya membuka penutup tuts pianonya. Meletakan jari-jarinya diatas piano itu.
Dentingan piano yang ia mainkan mengalun lembut mengisi rumahnya dan suasana kami.
Aku masih meneguk minuman obat pemberian Donghae sambil menikmati alunan lagu itu.
Donghae memainkan jari-jarinya dengan lentik bergerak seolah sedang menari-nari diatas tuts piano itu.
aku baru sadar, Donghae sudah mengakhiri lagu yang ia nyanyikan bersamaan dengan dentingan piano itu mengalun lembut mengisi kesunyian kami. Kuberikan teput tangan dari kedua tanganku sekedar untuk memberikannya penghargaan.
“Hebat. Lagumu tadi sangat bagus. Hey! Suaraku sudah kembali seperti biasa.” Seruku meraba leherku yang rasanya sudah agak enakan.
“sudah kubilang obat itu sangat bagus untuk tenggorokanmu yang sedang sakit—“ tiba-tiba Donghae menghentikan perkataannya saat ponsel menyeruak ditengah pembicaraan kami.
Aku memasukkan langsung tanganku kedalam saku celanaku, tapi aku sempat melihat Donghae juga bergerak gusar memasukkan tangannya kedalam sakunya.
Saat bersamaan kami mengeluarkan ponsel kami dan membukanya.
Donghae menatapku, setelah bunyi dering itu berasal dari ponsel milikku.
“yak~ kau masih belum mengganti dering ponselmu?” Tanyanya.
“untuk apa kuganti? Aku sudah nyaman memakai dering ini. jika kau merasa keberatan kenapa tidak kau saja yang menggantinya.”
Donghae mengernyit kesal. Tak kupedulikan tatapannya itu aku langsung mengangkat panggilanku.
“yoboseo?”
“Soonhye, kau dimana?” dari cara dan nada bicaranya, sepertinya aku sangat mengenali suara namja diseberang sana.
“aku? Sedang di—“ kuarahkan kepalaku menatap namja dibalik punggungku yang ternyata sedang menatapku. Kupalingkan pandanganku mencari alasan.
“aku sedang berada dirumah temanku. Ada apa?” kualihkan pembicaraan.
“ah~ tidak. Aku hanya sedang ingin bertemu denganmu. Bisakah?”
“mianhe, Hyunwoo-aa. aku sedang punya tugas. Kebetulan temanku bisa membantuku, sudah dulu ya, tidak enak mengobrol ditengah tugasku yang sedang menumpuk. Annyeong~” tanpa mempedulikan balasan apapun lagi darinya, aku segera memutuskan pembicaraan kami.
Kutatap layar ponselku. Setelah pembicaraan terputus, entah mengapa ada rasa mengganjal yang sangat aneh didalam batinku.
“siapa itu?”
Suara Donghae membuyarkan lamunanku. Aku berbalik untuk menatapnya.
“oh ige~ temanku. Tenanglah, aku tidak mengatakan bahwa aku sedang berada didalam rumah seorang artis papan atas.” Gurauku lalu memajukan lidahku disampingnya.
“aku sudah dengar tanpa kau harus katakan lagi. temanmu? Namja?”
Tanyanya lagi.
Aku mengangguk, menaruh kedua tanganku diatas lapisan piano putih milik Donghae.
“Ne. sebenarnya, dia itu mantan kekasihku.”
Tiba-tiba saja sepasang matanya mendelik “mantan kekasihmu?”
Aku mengangguk lagi “Ne, tapi sudah lama sekali aku mengakhiri hubunganku dengannya. Kira-kira sekitar 8bulan yang lalu. Entahlah mengapa dulu dia bisa kujadikan kekasih. Setelah ia ketahuan berpacaran lagi dan tentunya disitu aku memutuskan hubunganku. Yang membuatku merasa lebih kuat, entah mengapa terlepas dari hubunganku bersamanya tidak membuat keterpurukan berkepanjangan seperti hal nya yang dilakukan para sepasang kekasih lain jika barusaja putus hubungan.”
Donghae mendekatkan tubuhnya untuk lebih mendengarkan aku, kurasa.
“kau tidak merasa trauma akan hal itu? biasanya wanita gampang sekali rapuh atau bahkan setidaknya dia akan menangis jika mengingat masa putusnya hubungan seperti dirimu.”
“untuk apa aku melakukan hal itu? memang sih, kuakui aku pernah merasakan hal itu. tapi perlu kau ketahui tidak butuh waktu 2hari untuk melupakan semua itu. masih banyak hal yang lebih menyenangkan dibandingkan tenggelam dalam kesedihan berlarut-larut. selama aku melakukan hal yang akan membuatku lebih baik, kurasa itu akan lebih mudah melupakan sesuatu terberat sekalipun.
Aku menyukai berbagai macam hal, seperti lumba-luma, eskrim, kripik kentang, musik, kembang api, bunga, buku, hujan, pelangi, bintang dan bukit yang sangat tinggi. Jika aku sedang mendapatkan masalah yang terlalu bertubi-tubi menimpaku, aku bisa makan 5bungkus keripik kentang dengan ukuran super besar, dan terbukti hal itu akan membuat perasaanku lebih baik..” aku tersenyum jika mengingat semua kejadian itu. tidak menyadari tatapan Donghae yang begitu aneh memandangku.
“sudahlah, jangan memaksaku untuk bercerita lagi. ceritaku itu sungguh tidak penting. Jadi bagaimana untuk selanjutnya, apakah aku sudah diperbolehkan untuk berhenti dari pekerjaan ini?”
Donghae sesaat terperanjat. Ia mengusap-usap belakang lehernya dan matanya bergerak-gerak tidak pasti.
“belum bisa, hari ini kau harus ikut aku kesuatu tempat.”

******************

Hyunhee menaruh beberapa bungkus kripik kentang berukuran besar didepannya. Ia mulai menghidupkan tombol power diremote tivinya.
Menunggu acaranya yang sangat ia nantikan. Berbekal keripik kentang ditangannya, dan tibalah acaranya yang dinantikannya dimulai.
“waaahhh, Hari ini Donghae Oppa akan tampil diacara ini. kira-kira artis siapa saja ya yang akan ikut didalam acara penyumbangan donor darah ini?” gumam Hyunhee terlihat bersemangat.
Ia membuka keripik kentangnya, dan mulai memakannya satu persatu.
Matanya tidak lepas dari layar televisi nya untuk menunggu seseorang yang dinantikannya didalam televisinya.
“ah itu dia.. Donghae Oppa sudah datang. Aiissshhh, namja itu memang selalu terlihat tampan menggunakan apapun. Bahkan mobil merah yang dikenakannya itu sungguh membuatnya terlihat lebih seperti seorang laki-laki(?)” Hyunhee menggoncang-goncangkan tubuhnya lebih girang dari biasanya.
Tapi hal itu langsung dihentikannya saat kedua matanya menangkap sesosok wanita yang sedang digandeng Donghae. Seorang yeoja bernampilan menarik dengan pakaian jas biru gelap dan rambut yang tergerai sedikit ikal seolah melambai diikuti gerak tubuhnya menjauh dari beberapa kamera yang sedang berusaha menyorotnya.
Hyunhee menaruh kripiknya kesembarang tempat dan mendekatkan tubuhnya kelayar televisi untuk melihat lebiih jelas yeoja yang sedang digandeng Donghae.
“aissshh, Yeoja itu beruntung sekali bisa berpacaran dengan Donghae Oppa. Tapi kenapa majalah bodoh itu tidak bisa mengungkap siapa nama yeoja Donghae Oppa, ya?” gadis itu masih saja menggerutu dengan matanya yang belum lepas menatap mereka berdua.
Hyunhee teringat akan temannya yang bernama Soonhye itu. mungkin saja dengan pertemuan diacara konser launching Donghae, Soonhye berbalik jadi ikut menyukainya seperti Hyunhee menyukai Donghae.
Terlebih ketika Soonhye mendapatkan syal dari Donghae sendiri.
Gadis itu segera menghubungi Soonhye melalui ponselnya. menekan beberapa nomor yang langsung tersambung ke ponsel Soonhye.
Matanya masih tetap memandang layar televisinya sambil menunggu Soonhye mengangkat telfonnya.
“aisshh, kenapa tidak diangkat.” Gerutu Hyunhee memutar balikkan matanya.
Ia kembali menghubungi Soonhye dan kembali menatap layar televisinya. Masih memandang Donghae yang sedang diikuti beberapa kamera.
Tapi sejenak tubuh Hyunhee tersentak ketika yeoja didalam televisi yang sedang bersama dengan Donghae tampak sibuk merogoh tas gandengnya Hyunhee pun melotot menatap yeoja didalam televisi itu, dan yang lebih mengejutkannya lagi saat yeoja itu mengeluarkan sebuah PONSEL.
Hyunhee menganga lebar. Yeoja didalam televisi itu terlihat mematikan ponselnya dan membuka baterai ponselnya.
Saat itu juga diwaktu yang bersamaan, sambungan Hyunhee terputus saat dirinya sedang menghubungi Soonhye.
Tangannya bergerak kaku bahkan rasanya tidak bisa digerakan lagi. matanya masih tidak bisa dipindahkan dari layar tivinya.
Beberapa detik ia dikejutkan dengan sesuatu yang sangat mencurigakan.
Kenapa ponselnya bisa ponsel Soonhye bisa sama-sama mati?


*TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar